Parenting - Lifestyle - Crafting

Mengenang Bapak. 15 Hari Setelah Kepergian Beliau.

| on
Monday, May 15, 2017
A post shared by Ria Rochma (@ria_rochma) on

A Father is someone you look up to. No matter how tall you grow -- unknown

Lima belas hari sudah Bapak meninggalkan kami sekeluarga. Tidak hanya keluarga inti kami saja yang merasa kehilangan, tapi juga keluarga besar baik dari pihak Bapak sendiri, ataupun dari pihak Ibu. Kepergian yang tiba-tiba. Kepergian yang masih dengan dipenuhi harapan baik untuk beliau. Kepergian yang menurut banyak kawan dan sanak saudara, terlalu muda meskipun usia beliau sudah berada di 57 tahun.

Banyak yang saya pendam setelah kepergian Bapak. Yang tidak bisa saya ceritakan ke siapa pun. Entah, mungkin bukan tidak bisa, tapi tidak sanggup. Mungkin karena perasaan kehilangan yang besar sehingga saya sendiri tidak bisa menceritakannya.


Ketika mbak Yuni sebagai perwakilan emak-emak blogger yang ada di Surabaya ta'ziah ke rumah tepat tujuh hari meninggalnya Bapak, dia bertanya ke saya dengan sebuah pertanyaan yang belum pernah ditanyakan oleh para pelayat lainnya.

"Mbak, terasa tiba-tiba ya?"

Saya tersontak seketika itu juga. Semua pikiran saya kembali cepat disaat pertama kali Bapak duduk di atas tempat tidur di IGD sebelum ditempatkan di ICU, setelah sehari masuk rumah sakit. Beliau tertawa ketika saya bertanya, "Bapak di ICU?"

Beliau hanya menjawab ringan, "Ngga papa, Bapak cuma disuruh istirahat lagi. Biar nggak banyak ngomong pas disambang."

Saya lega ketika mendengar jawaban Bapak. Artinya, Bapak memang baik-baik saja. Bapak benar-benar sudah menerima semua keputusan dokter demi kesehatannya. Saya juga lega, setelah sebelumnya emosi saya jatuh di titik yang tidak bisa saya atasi setelah saya mendapat telepon dari Ibu bahwa Bapak dikirim ke ICU setelah maghrib. Suasana hati saya benar-benar buruk ketika itu, tapi Bapak dari dulu memang paling pandai membuat hati saya tenang ketika hati saya sedang terobrak-abrik.

Ketika mendapati setiap hari Bapak tersenyum dan baik-baik saja ketika saya menyambangi beliau di dalam ruang ICU, atau ketika mendengar cerita Ibu bagaimana lahapnya Bapak makan, saya masih tidak percaya bahwa kondisi seperti itu sudah tak saya dapati lagi. Memang, kian hari belum ada tanda-tanda meningkatnya kondisi detak jantung, nadi dan kecepatan nafas Bapak. Tapi melihat mata Bapak yang juga menggambarkan bahwa beliau pun ingin segera keluar dari ICU, membuat kami percaya bahwa Bapak akan lekas sembuh.
.
.
Credit

-30 April 2017 -

Namun, saya terduduk di pojokan, ketika di Minggu pagi itu semua perawat dan seorang dokter jaga melakukan CPR pada Bapak saat detak nadi Bapak tidak juga muncul setelah terjadi serangan pada jantung beliau beberapa menit sebelum jam 10 pagi. Saya cuma bisa merangkul lutut, dengan bibir bergetar tapi tak bisa menangis. Ketakutan kehilangan Bapak ketika itu juga, cepat merayapi tubuh saya. Saya tak setegar Ibu, yang tetap tegak berdiri di dekat tempat tidur sambil terus berucap, "Bi, Abi, bangun, Bi!". Melihat Ibu, saya ngga bisa terus-terusan berada di lantai meratapi perawat yang belum juga berhasil menemukan aliran nadi Bapak. Saya peluk Ibu, inginnya menguatkan Beliau. Tapi saya bodoh jika melakukan itu karena sebenarnya saya lah yang mencari penguatan untuk diri saya sendiri. Memeluk Ibu, membuat saya lebih tenang.

Bergegas saya menelepon Adik yang pagi itu sedang ada di pabrik, di Pandaan. Tidak dia angkat. Iya, karena di pabrik nggak boleh pegawai terus-terusan melihat ponsel. Tak lama, dokter jaga memastikan kondisi Bapak sudah lebih stabil meskipun masih dalam range kritis. Nafas beliau sudah mulai teratur, detak jantung juga sudah mulai kembali normal meskipun mungkin lemah. Tinggal menanti detak nadinya muncul. Ketika Ibu mulai membaca ayat-ayat al-Qur'an di samping Bapak, saya memilih keluar dari ruang ICU untuk menenangkan diri. Ya Tuhan, kaki saya gemetar, tak sanggup memakai sandal dengan cepat. Tangan saya pun terasa lemas, sehingga saya gunakan bahu untuk mendorong pintu masuk ICU. Kejadian tadi terasa begitu cepat tapi membuat tubuh saya seperti hancur dan susah untuk kembali.

Alhamdulillah, nenek saya dan semua saudara Bapak tiba di rumah sakit siang itu. Mereka kaget ketika saya ceritakan bagaimana kondisi Bapak terakhir. Tak bisa lagi kami berkata-kata, tak banyak yang bisa saya ceritakan karena kami malah menangis. Bergantian kami semua menengok Bapak, menyapa beliau dan membacakan ayat-ayat al-Qur'an untuk menguatkan beliau serta menguatkan hati kami sendiri.
.
.
Disaat Bapak menghembuskan nafas terakhirnya, ketika itu saya keluar meninggalkan ruang ICU untuk menghubungi sanak saudara yang menginap di rumah Ibu, untuk mengatakan bahwa kondisi Bapak makin kritis dibandingkan tadi siang. Belum semua saya hubungi, tiba-tiba Ibu dan salah satu adik Bapak keluar dari ruang ICU dengan mata sembab dan bergegas membereskan barang-barang yang ada di lorong. Saya tidak bertanya bagaimana kondisi Bapak ketika itu, saya hanya menatap wajah adik Bapak. Dia menggelengkan kepala dan dengan lirih mengatakan Bapak sudah tiada. Innalillahi wa innailahi rojiun. Pukul 23.45, Bapak berpulang ke Rahmatullah.

Seketika itu tubuh terasa ringan. Yang saya lakukan hanyalah duduk di atas kursi tunggu dan menggenggam besi pegangan di sisi-sisi kaca sambil menangis sekencang mungkin. Menangisi kepergian Bapak, menangisi ketidaksiapan saya ditinggal Bapak serta menangisi hilangnya harapan-harapan untuk kesembuhan Bapak. Ketika adik terakhir Bapak memeluk saya dan mengatakan untuk mengikhlaskan Bapak, saya mengumpat dalam hati. Nggak mudah untuk ikhlas melepas kepergian seseorang selamanya ketika saya belum siap untuk kehilangan. Tapi umpatan itu tidak bisa keluar dari mulut, karena hanya sesenggukan saja ketika itu yang bisa saya keluarkan.

Entah sudah berapa menit berlalu sejak saya menangis. Tidak terlalu lama sepertinya. Sepertinya. Tiba-tiba saya seperti dihempaskan kembali ke dunia nyata, bahwa life must go on. Saya nggak bisa terus-terusan menangis di satu tempat seperti itu. Kewarasan saya bisa hilang seketika itu juga. Sekelebat saya melihat Ibu yang membereskan barang-barang, kesadaran saya akhirnya kembali. Saya hentikan tangisan saya dan mengajak adik terakhir Bapak untuk masuk ruang ICU melihat Bapak untuk yang terakhir kalinya.

Iya, benar-benar untuk terakhir kalinya. Meskipun hanya sebentar karena berbagai alat bantu di tubuh Bapak sedang dilepas satu per satu dari tubuh Beliau. Oleh perawat kami disuruh keluar dahulu. Benar-benar terakhir kalinya. Meskipun ada keinginan untuk mengunggui jenazah selesai dibersihkan dan diantar oleh pihak rumah sakit ke rumah, tapi saya cegah sendiri keinginan saya itu. Karena saya sedang menggendong Fatin yang terbangun dan mulai rewel. Benar-benar terakhir kalinya. Karena setelah Bapak dikafani pun, saya tidak mendapatkan kesempatan melihat wajah beliau lagi, entah karena apa ketika itu. Suasana terlalu riuh oleh pelayat, terlalu membingungkan untuk saya.
.
.

Kematian sudah menjadi sebuah rahasia yang tidak bisa diganti-ganti ketentuannya. Harapan-harapan supaya Bapak bangun dari kondisi kritisnya, yang selalu saya tambahkan di tiap sudut ruang hati saya, nyatanya tak diloloskan oleh Sang Pemilik Nyawa. Tuntas sudah tugas beliau di dunia. Tuntas sudah kewajiban beliau menjadi makhluk-Nya. Tuntas sudah tugas beliau menjadi suami, bapak, anak, serta saudara. Bersamaan pula dengan habisnya kesempatan kami untuk terus bersama beliau, untuk terus melihat senyum di wajah beliau, untuk terus berbagi pikiran dan pendapat bersama beliau, untuk terus menyandarkan kepala di bahu beliau.

Saya merasa kehilangan sekali. Karena dari Bapaklah saya belajar banyak sekali ketrampilan-ketrampilan hidup. Ketrampilan yang membuat kami mengerti arti sebuah keluarga, prioritas, kewajiban, ketahanan hidup, kecintaan pada mimpi, serta masih banyak yang lainnya. Apa yang saya miliki sekarang, apa yang saya tekuni sekarang, apa yang menjadi kemampuan saya sekarang, Bapak dan Ibulah yang membinanya dari nol.

Selamat jalan, Bapak.
Semoga dilapangkan kuburmu, dimudahkan jalan menuju surga Allah dan semoga menjadi kematian yang khusnul khotimah.
Dan semoga kami kian hari kian sabar, ikhlas, dan tetap tegar melepasmu dan sepeninggalmu.

Kami sayang Bapak.
Aku pun begitu. Selalu.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature