Minggu, 31 Juli 2016

Mudik Lebaran 2016, Sebuah Bonus dari Kesabaran


Semua berawal ketika Bapak sakit pada minggu ketiga di bulan Ramadhan kemarin. Disaat kami semua berharap dan selalu berdoa untuk kesehatan beliau, ternyata Allah menakdirkan berbeda. Bapak tumbang karena batuk rejan yang tak kunjung sembuh sehingga membuat kinerja jantung semakin berat. Bonusnya, Bapak diwajibkan istirahat di rumah sakit selama satu minggu dan sejenak tak memikirkan apapun yang membuat beliau stres.

Sejak saya kecil, saya jarang sekali melihat Bapak sakit. Entahlah, apakah memang daya tahan tubuh beliau itu termasuk yang super baik ataukah karena beliau itu pandai menjaga kondisi tubuh. Batuk pilek pusing, iya pernah. Tapi bisa dihitung dengan jari untuk berapa kali beliau sakit. Dan sampai sebesar ini, saya mendapati Bapak benar-benar tidak berdaya karena sakit itu hanya dua kali. Pertama saat saya SMP. Malam hari menjelang isya, tiba-tiba terdengar bunyi ‘bruk’ dari arah dapur. Karena suaranya yang kencang sekali, Om saya yang sementara tinggal di rumah kami, mengecek ke belakang. Tak lama beliau teriak-teriak minta tolong karena Bapak pingsan. Setelah Bapak siuman, bergegas Om memapah Bapak ke kamar untuk istirahat dan tak lama kemudian mereka berdua ke rumah sakit untuk periksa. Itu saja, Bapak hanya perlu waktu sehari saja untuk pulih. Besok lusanya, beliau sudah tampak bugar dan sehat.

Yang kedua, ketika saya kuliah. Saat liburan, saya selalu pulang ke rumah jika saya dan teman-teman sudah selesaikan program pengisi liburan, yang biasanya kami lakukan dengan dasar suka-suka daripada ‘nganggur’ saat liburan (Baca juga : Magang Saat Kuliah? Oke Banget!) . Bapak adalah orang yang kreatif dan ulet. Beliau tidak bisa diam dan selalu ada saja yang dilakukan saat tidak bekerja. Nggak heran, banyak barang-barang di rumah kami yang menjalankan fungsinya karena tangan dingin beliau. Sore itu, entah apa yang akan dibuat Bapak, tiba-tiba Bapak menyuruh saya mencarikan obat merah untuk jempol kakinya yang berdarah. Saya pikir, setelah diberi obat merah, luka beliau akan membaik. Ternyata tidak. Setelah sholat Maghrib, Bapak minta diantar ke rumah sakit dengan menggunakan motor karena darah tak berhenti-henti keluar dari jempol kakinya. Itu membuat Bapak lemas. Begitu saja, seingat saya, beliau hanya istirahat sehari dan besok lusanya, sudah bisa memakai safety shoes saat kerja seperti biasanya tanpa rasa sakit.



Lalu, ketika Bapak diharuskan untuk opname di minggu ketiga Ramadhan kemarin, kami hanya bisa pasrah. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik, mengingat beliau susah sekali jika disuruh istirahat dan inginnya ‘bergerak’ terus. Kemudian, sebelum Bapak dibawa dengan menggunakan ambulan dari klinik yang berada di dekat rumah menuju rumah sakit, kami sekeluarga rundingan sebentar untuk membagi-bagi tugas untuk urusan domestik selama Bapak opname. Tugas menjaga Bapak, dilakukan oleh Ibu. Karena kami tahu, Bapak pastinya lebih nyaman dengan Ibu. Sedangkan saya, sudah ngga mungkin lagi menjaga Bapak karena ada dua balita di rumah. Adik saya pun begitu, nggak diijinkan Ibu menggantikan beliau karena Adik saat ini bekerja di Pasuruan dan harus PP setiap hari. Saya, adik ipar dan Paman yang tinggal berdekatan dengan kami, bergantian membawakan makanan untuk sahur dan buka puasa Ibu saat kami menjenguk Bapak.

Ketika itu, terselip sedikit keraguan kalau kami tidak akan ke Malang untuk berkumpul bersama keluarga besar saat lebaran nanti. Meskipun progres kesembuhan Bapak terbilang baik ketika dalam pengawasan dokter, tapi jika setelah lebaran tiba Bapak masih belum pulih betul, maka kami benar-benar tak jadi berangkat ke Malang. Memang, sedikit ada kecewa karena hanya saat itu sajalah keluarga besar kami bisa kumpul secara lengkap. Tapi kami tepis jauh-jauh perasaan kecewa itu karena kami harus fokus untuk proses kesembuhan Bapak.

Alhamdulillah, kondisi Bapak makin pulih. Yang awalnya hanya makan sedikit saja, lama-lama porsinya makin bertambah. Batuk yang dari kemarin terdengar tak bisa berhenti, kian hari intensitasnya makin terdengar jarang. Mungkin, ini hasil dari kegigihan Bapak menjaga silaturrahim dengan banyak orang sehingga doa-doa dari teman-teman beliau yang tak kunjung berhenti saat mereka menyambangi di rumah sakit. Belum lagi, doa-doa dari keluarga besar kami melalui grup keluarga di WhatsApp maupun keluarga yang berkesempatan untuk menjenguk.

Seminggu berlalu, Alhamdulillah Bapak sudah diijinkan keluar dari rumah sakit dan kembali dua hari kemudian untuk kontrol. Dokter jantung yang menangani Bapak, adalah teman SMA suami. Lewat chatting di Whatsapp, dia menyampaikan kalau kondisi Bapak bisa pulih dengan baik asalkan cukup sekali istirahat, pola makan yang dijaga dan tidak boleh stres. 

Kemudian, perbincangan untuk berlebaran di Malang muncul kembali di antara kami. Melihat kondisi Bapak yang belum pulih betul dan mengingat berlebaran di Malang yang hanya sebentar itu pastinya padat merayap jadwalnya, awalnya kami pikir lebih baik nggak usah ke Malang dulu. Ditambah lagi, jadwal lembur kerja Adik di hari H hingga seminggu kemudian, yang tidak bisa ditawar lagi. Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan, mampukah kami semua tidak berlebaran di Malang ketika masih ada para sesepuh yang harus kami kunjungi dan kami mintai maafnya? Atau, bagaimana perasaan para Mbah di sana jika kami tidak menyambangi beliau semua? 

Di grup Whatsapp, keluarga dari Bapak ataupun dari Ibu, sudah berharap sekali kami hadir di Malang. Mengingat Bapak dan Ibu yang sama-sama anak tertua dari kedua keluarga. Doa-doa dari keluarga kami supaya Bapak makin pulih dan motivasi-motivasi supaya kami bisa tetap hadir di Malang, setiap hari terus mengalir. Ah, kalau sudah begini, apakah kami tega untuk tidak berlebaran di sana?

Lalu diputuskanlah kami berlebaran di Malang. Minus Adik dan istrinya.



Biasanya, saat lebaran begini, kami selalu membawa dua mobil karena Bapak biasanya berangkat lebih awal ketimbang saya dan suami. Karena biasanya, saya dan suami selalu menghadiri dulu acara silaturrahim di keluarga besar suami di Lamongan, barulah kami berangkat ke Malang keesokan harinya. Tapi mengingat kondisi Bapak yang tidak memungkinkan untuk menyetir mobil sendiri, beliau dan Ibu haruslah mengalah untuk menunggu kami pulang dari Lamongan dan keesokan harinya berangkat ke Malang bersama-sama dengan menggunakan satu mobil saja. 


Sesampainya di rumah Abah (orang tua Ibu) dan di rumah Emak (Ibunya Bapak), kami disambut dengan wajah-wajah yang penuh kelegaan, yang sudah hadir di sana menunggu kami datang. Dan saya pun juga ikut lega melihat wajah-wajah mereka. Dalam hati saya berucap Hamdalah karena Dia mengizinkan kami semua berkumpul dalam suasana ceria penuh berkah dan tawa. 

Meskipun hanya sejenak untuk tiga hari saja, tapi tertawa lepas bersama keluarga memang menjadi mood booster kami untuk selalu bersabar dalam proses pemulihan kesehatan Bapak. Dan saya yakin, Bapak pun juga merasa seperti itu. Mengingat bagaimana hari-hari Bapak di rumah sakit, berjuang bersama selang-selang obat dan infus serta berbagai macam tes kesehatan, kami sempat ragu apakah kami bisa berkumpul bersama keluarga besar kami saat lebaran nanti. 


Alhamdulillah.

Dan bahwa Dia menguji kesabaran kami saat puasa lalu, digantikan dengan hadiah yang cukup besar. Yang mana hadiah itu kadang kala hanya berlalu begitu saja tanpa ada pemaknaan yang berarti. Berkumpul bersama keluarga saat lebaran.

***

Hai pembaca Mama Arkananta, jangan lupa untuk datang di next event Diaryhijab yaitu Hari Hijab Nasional. Kapan dan di mana nih? Detailnya sebagai berikut ya, supaya nggak kelewat buat datang.

• Nama Acara : Hari Hijaber Nasional
• Tanggal : 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
• Tempat : Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat

Sudah dicatat kan waktu dan tempatnya? InsyaAllah acaranya seru dan menarik. So, jangan sampai ketinggalan ya!


5 komentar:

  1. Semoga bapak sehat-sehat terus ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin..
      terima kasih, mbak :)

      Hapus
  2. Jadi pengen ngerasain mudik deh.haha..*derita ga punya kampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehehe..
      Ini juga bukan kampung saya sih sebenernya. Kampungnya bapak ibu :)

      Hapus
  3. OOOooh keluarganya mba Ria banyakan di Malang ya, semoga bapak diberikan kesehatan selalu ya mba :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^