Selasa, 18 Februari 2014

Kesedihan dan Kebahagiaan Selalu Datang Bersamaan

credit

Kesedihan dan Kebahagiaan Selalu Datang Bersamaan - Hari Sabtu lalu, 15 Februari 2014, saya dan beberapa teman kerja *sahabat-sahabat baru* berencana sepulang kerja membesuk seorang teman kerja yang masuk rumah sakit karena penyakit jantung. Karena rumah sakitnya di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, kami rencanakan berangkat secepat mungkin. Ya, Malang sekarang sudah menjadi kota yang macet sejak banyak wisata keluarga yang dipusatkan di sana. Sedangkan dalam rombongan, saya dan seorang teman sudah memiliki anak, sedang yang lainnya masih pada jomblo. Jadi, rombongan juga mempertimbangkan anak yang kami tinggal juga *peluk teman-teman, terima kasih*.

Teman saya yang masuk rumah sakit ini, panggil saja Hani. Penyakit jantung yang dia idap, sebenarnya sudah sejak kecil karena memang merupakan jantung bawaan. Sebelum ini, dia sudah pernah masuk ICU di salah satu rumah sakit swasta di Gresik. Kalau yang sekarang, karena ayah yang terkena glukoma dan kakak perempuan yang sudah memiliki pekerjaan tetap di Malang, akhirnya diputuskan dia dipindah ke Malang saja.

Kami, para sahabatnya, sempat shock juga saat mendengar kondisi dia drop beberapa minggu sebelum masuk rumah sakit. Seorang sahabat, malah membawa dia untuk istirahat di rumahnya supaya Hani bisa diawasi dengan baik *FYI, Hani masih single*. Dan saat kondisi dia benar-benar drop, akhirnya kami ikhlaskan dia untuk dirawat di rumah sakit di Malang. Dan ya, kami putuskan untuk menyambangi dia. Meskipun memang kami tak bisa membantu banyak, tapi setidaknya kami ingin hadir di hari-hari saat dia di rumah sakit.

Melihat kondisi dia kemarin dan mendengar cerita dari kakaknya, beberapa dari kami menangis. Kasihan. Air mata saya sempat menggenang, tapi tak saya jatuhkan. Entah, saya hanya ingin Hani melihat saya tak menangis. Itu saja. Tapi, saat sampai di rumah, saat berdoa untuk dia, saya menangis habis-habisan. 

Saya tak ingin menceritakan apa saja yang membuat sakit dia semakin parah, biarlah itu menjadi masa lalu Hani dan setelah ini, biarlah dia yang membatasi semuanya. Yang saya dan para sahabat harapkan adalah supaya dia diberi kesembuhan. Tak ada yang lain. Mengingat usia dia masih belum tiga puluh tahun, mengingat dia masih memiliki banyak mimpi, mengingat dia masih memiliki semangat yang tinggi ala anak muda. 

Begitulah.


Dan saat kami mengunjungi Hani, saya sempatkan untuk kopdar dengan salah satu blogger yang pawai memainkan kata dalam fiksinya. Nina Noichil. Dia salah satu dokter di rumah sakit tempat Hani di rawat, jadi ya, sekalian saja  saya ajak kopdar singkat. Mendadak memang, karena saya pikir dia sedang tugas di luar kota *setahun dia pernah di Alor*. Sebelum berangkat ke Malang, saya whatsapp dia, dan ternyata posisi dia sekarang sedang di Malang.
(photo by Nina)

Nina, perempuan manis yang ramah dan mudah bersahabat. Tak sungkan dia pegang tangan saya saat ceritanya kadung seru. Dan juga tak sungkan dia menerima pelukan saya saat kami pertama bertemu. Nina, perempuan yang pintar bermain kata. Jujur saja, sejak membawahi Berani Cerita dan gabung di MFF, saya  penasaran bagaimana sosok asli bu dokter ini. Dan ya, memang dia pintar. Dari cara dia bertutur kata, cara dia menyampaikan buku-buku favoritnya, cara dia bercerita tentang penggalian ide, semua mencerminkan tulisan-tulisan dia di blognya.

Saya senang, bisa kembali kopdar dengan salah satu blogger kenalan saya. Meskipun memang waktu yang akhirnya menjadi batasan obrolan kami, tapi saya bersyukur bisa bertemu Nina. Lagi-lagi, saya kopdarnya dadakan. Seperti saat saya kopdar dengan Mbak Dey dan Teh Nchi Hani saat di Bandung kemarin.

Dalam perjalanan kembali ke Gresik, saya akhirnya menyadari, bahwa kesedihan itu selalu bersamaan dengan kebahagiaan. Hm, bukankah memang di dunia ini, Tuhan sudah membuat segala itu berpasangan? Dan bukankah pasangan itu selalu berjalan beriringan? Saya ingat kembali, saat seorang teman mengajar kehilangan ibu mertuanya saat dia akan berangkat umroh. Atau para korban gunung Kelud yang harus mengungsi tapi nantinya mereka akan mendapatkan berkah dari material-material gunung Kelud yang menyuburkan tanah mereka. Atau seorang sahabat yang diangkat menjadi PNS di Cirebon tapi harus berpisah dengan keluarganya di Gresik. Dan masih banyak lagi contohnya.

Begitulah kawan. Kesedihan dan kebahagiaan selalu datang bersamaan. Saat kita menyesali sesuatu, saat kita terpuruk, saat kita sangat sedih, ada saat dimana kita pasti mendapat kebahagiaan. Tinggal bagaimana kita lebih peka pada apa yang kita alami.

Salam sayang,
Miss Rochma

24 komentar:

  1. katanya...sedih dan bahagia itu bedanya tipis^^
    buat mbk **** semoga lekas sembuh dan kembai merajut mimpi ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya is ya, bener tuh yang kamu bilang. bahagia dan sedih beda tipis. :)

      Hapus
  2. Hiks benar banget jeng... aku baca pas posisi perasaanku kacau jadi ikut terbaca... berkaca2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga saat kacau ini, ada kebahagiaan yang nantinya bisa membuatmu bahagia meski sejenak :)

      Hapus
  3. Tampilan fotonya memang sepotong begitu ya Mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia mbak dey. aku juga heran. Beberapa artikel terakhirku fotonya pada kepotong. Padahal sebenarnya pas mau publish baik-baik saja lho :(

      Hapus
  4. buat temen mbaknya, semoga tetap diberikan kekuatan ya, dan juga kesembuhan :)
    di balik kesulitan ada kemudahan, di balik kesedihan ada kebahagiaan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Semoga dia lekas sembuh :)

      Hapus
  5. akkhhh... senengnya bisa kopdar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mari kopdar, mbak sari. kan kita cuma gresik-sidoarjo :)

      Hapus
  6. Kita selalu kedatangann tamu istimewa Jeng. Kesedihan dan kegembiraan. Siapkan kursi istimewa pula yaitu kursi bermerk SABAR dan SYUKUR. Dengan cara itu maka hidup kita tak akan terombang-ambing.

    Terima kasih sharingnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pakdhe. Memang hanya sabar yang bisa menguatkan hati, dan syukur yang bisa mengingatkan kita bahwa Tuhan tak pernah lupa pada makhluk-Nya. Terima kasih sudah mengingatkan, Pakdhe :)

      Hapus
  7. barangkali memang begitulah dunia, ada siang ada malam, ada kesedihan juga kebahagiaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan mereka berpasangan. berjalan beriringan, kadang bergantian :)

      Hapus
  8. Setiap kesulitan pasti dibarengi kemudahan, begitu jg bhagia n sedih. senangnya bs kopdarrrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul jiah. tinggal bagaimana kita menyikapi keduanya :)
      Ayo kopdar. Semoga bisa yaaa..

      Hapus
  9. Aaak! Semoga enggak dianggep sok akrab T.T

    Kapan2 kita ketemu lagi, ya. Dalam kondisi yg lebih nyaman dan tanpa kesedihan :")
    *peyuk lagi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak lah, ninaaaa... aku lebih suka kita akrab seperti itu. jadinya pas ketemu lagi nggak canggung dan lebih santai :)

      sippo, ntar kalau kemalang lagi, kukabari yaaaa..

      Hapus
  10. iya bener. Itu yang disebut keseimbangan dalam hidup ya. sedih dan senang datang beriringan jadi di saat senang kita gak terlalu melonjak-lonjak yang bikin jantung jadi gak sehat, di saat sedih kita gak terlalu terpuruk yang bisa bikin otak jadi depresi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mbak ade.. penyeimbang emosi dan otak :)

      Hapus
  11. saya kadang berpikir miss ga enak banget sih lagi seneng tiba2 sedih trus pas sediiih banget mendadak ada yg bikin seneng. kadang saya ngerasa capek kalo emosi cepat berubahnya. tapi itu namanya hidup ya miss

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya, tergantung kitanya yang menyikapi ya, Lin. kalau kebawa sedih terus, juga nggak enak kita juga waktu jalani aktifitas. jadi ya, pintar-pintarnya kita cari penghiburan diri :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^