Kamis, 13 September 2012

Mari Menyelesaikan Tanggung Jawab Sebelum Kita Meninggal

Dalam waktu 2 bulan, 3 teman kerja di sekolah meninggal secara tidak terduga. Satu orang adalah guru TIK, dan dua orang merupakan karyawan sekolah yang bertugas membersihkan sekolah. Guru TIK itu, namanya bu Pri. Meninggal mendadak karena sakit asam urat dan kolesterol setelah sebelumnya masuk RS 2 hari karena strock. Dua orang karyawan itu, satunya bernama pak Zaenal, satunya namanya pak Naryo. Pak Zaenal sudah lama memang sakit diabetes, dan sudah hampir 2 tahun tidak aktif bekerja karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Sedangkan pak Naryo, tidak sakit apa-apa dan meninggal ketika sedang tidur.

Bu Pri dan bu Reni, rekan kerja


Jelas berita ini membuat saya kaget karena mereka meninggal secara mendadak. Tidak dikira-kira. Karena memang sebelumnya kondisi mereka semua dinyatakan baik-baik saja. Saya tidak mengatakan mereka sehat tapi baik. Mereka semua punya keluhan kesehatan tetapi sebelum meninggal, kondisi kesehatan mereka dinyatakan dokter stabil. Bu Pri, memang memiliki darah tinggi, tetapi ketika itu dia merasa sehat. Pak Zaenal diperbolehkan pulang dari RS setelah rawat inap selama sebulan penuh. Pak Naryo, dua bulan sebelumnya mengeluhkan sakit gigi tetapi sudah pergi ke puskesmas.

Bu Pri, meninggal pada awal tahun ajaran baru. Pak Zaenal, 3 hari sebelum lebaran. Dan pak Naryo, 2 hari setelah lebaran. Jangka waktu mereka bertiga meninggal, sungguh dekat. Inilah pula yang membuat kami shock selain mereka meninggal mendadak tanpa kabar sakit parah.

Namun, dibalik kesedihan dan kekagetan saya, saya mengagumi mereka. Mengagumi apa yang sudah mereka lakukan sebelum meninggal. Yaitu menyelesaikan tanggung jawab masing-masing. Ya, tanggung jawab yang tidak sedikit dari sekolah dan keluarga. Bu Pri telah menyelesaikan laporan keuangan dan laporan pelaksanaan kegiatan penerimaan siswa baru. Pak Naryo telah berhasil memasukkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP meskipun dia hanya sebagai pegawai kebersihan dan telah menjalankan tugas-tugas dari sekolah dengan baik.

Membayangkan kematian, memang membuat kita menjadi lebih takut. Tapi sejatinya ketakutan itu bukan takut tidak bisa merasakan lagi enaknya hidup tetapi takut ketika kita meninggal nanti ternyata kita tidak memiliki persiapan apa-apa. Saya rasa, bukan hanya persiapan agama dan mental saja (karena meninggal bisa kapan saja), tapi juga persiapan untuk menyelesaikan tanggung jawab yang menjadi beban kita. Saya mengatakan sebagai beban karena dengan beban itulah, maka seseorang akan merasa bahwa tanggung jawab yang dia pegang adalah penting adanya. Sehingga dengan begitu, tanggung jawab ini akan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh perincian.

Ketika tugas yang menjadi tanggung jawab itu kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, maka dalam diri kita secara tidak sadar akan terbentuk sikap untuk menghargai waktu. Dan dengan menghargai waktu itulah, maka perasaan kita akan lebih ringan ketika tanggung jawab kita itu dikerjakan dan kita akan memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri dalam hal lain.

Ketika kita berbicara tentang waktu, sungguh kita sebenarnya memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan semua tanggung jawab kita dengan terorganisir dan terperinci. Sehingga bagi kita, akan lebih siap lagi untuk menghadapi hal-hal yang sifatnya mendadak. Terutama ketika kita nantinya dihadapkan pada yang namanya kematian.

Karena ketika tanggung jawab yang dihadapkan pada kematian ini, tidak hanya berhubungan dengan diri sendiri tapi juga orang lain. Sehingga kiranya, orang lain tidak akan kesulitan melanjutkan tanggung jawab kita. Dalam artian, kita nantinya meninggal dengan rasa penuh kelegaan. Begitu juga orang yang kita tinggal, tidak begitu ngoyo dan bersedih dengan kehilangan kita.

Sungguh kawan, mari kita susun kembali tanggung jawab kita dan kita selesaikan satu per satu dengan memperhatikan waktu yang kita miliki. Supaya kelak, kita bisa meninggal dengan rasa penuh kelegaan.

Selamat pagi, semua ^_^

10 komentar:

  1. weh,renungan siang jelang makan siang iki....sippp ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal aku postingnya tadi pagi. hahahaha,
      selamat makan siang, iis :)

      Hapus
  2. Postingan ini mengingatkan pentingnya asuransi jiwa *suer, aku bukan agen asuransi loh*

    Mkasih sudah mengingatkan ya mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah nggak kepikiran kesana lho mbak mayya. hm, makasih juga dah mengingatkan :)

      Hapus
  3. setuju mam..karena kita tak kan prnh tau kpn kita menghadapNYA..selesaikan tanggung jawab sblm waktu berakhir ya mam..
    trimakasih postingannya sdh mengingatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. emak enny, tanggung jawab tidak pernah berakhir karena kita memiliki tujuan. tapi, setidaknya harus kita selesaikan tepat waktu bukan?

      Hapus
  4. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun... semoga banyak bekal yang kita dapat kita siapkan menjelang akhir hayat. Makasih kunjungannya ya Miss :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak mira...
      semoga kita bisa belajar dari cerita teman-teman saya. :)

      Hapus
  5. Saya kadang on denial, "Ah masih ada esok, gak akan mati esok sehat gini, masih sempat nyiapin tetek bengek anak2". Padahal kita tidak tahu, tidak kuasa, semua ditentukan Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak Lusi...
      pikiran kita memang sering seperti itu. masih berfikir kalau mati itu karena sakit atau bencana. harus merubah pikiran yang seperti itu

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^