![]() |
"Mas, mahal sekali." Keluhku, tapi tak ditanggapi mas Marno. Dia masih tetap memperhatikan sekitar, masih diam. Merasa kalau sikap tubuhku yang aneh karena harga yang tertera di nota, mas Marno cepat-cepat mengambil nota itu, meremasnya lalu membuang di sembarang tempat. Kemudian dia kembali diam, aku pun tak berani mengajaknya berbicara.
Menit-menit berlalu. Akhirnya kuberanikan diri berbicara dengan mas Marno. "Mas, jusnya mahal ya."
Kuperhatikan mas Marno masih diam. Tak menoleh saat aku berbicara.
"Mas.."
"Kita enggak butuh bicarakan harga jus, Is!" Sentak Marno.
"Kita bicara apa lagi, Mas? Sudah berakhir pembicaraan kita sejak semalam."
"Tapi Is, ini enggak adil buat kamu."
Aku diam sejenak, mencoba tidak mengikuti perasaanku yang memang mengatakan ini tak adil untukku. Kumantapkan hati kembali untuk tetap pada keputusan kami.
"Tak adil lagi bila Mas membagi cinta untukku, sedangkan Mbak Yun sudah hamil sekarang."
"Is.."
"Ah, sudahlah Mas. Jangan diperpanjang lagi. Toh sampai sekarang tak ada bayi di perutku," Ucapku, yang sangat kuusahakan untuk terdengar tak bergetar sedih. "Besok segera urus surat cerai kita."
"Is.."
Aku habiskan jus yang dari tadi hanya separuh aku minum. Siap-siap aku beranjak, namun jemari mas Marno menggenggam tanganku.
"Is, aku tahu kalau kamu mencintaiku."
Ya, aku mencintaimu, Mas. Sejak kita menikah dua tahun yang lalu. Ucapku dalam hati, tapi tak terucap lewat bibirku.
"Bukan masalah siapa mencintai siapa, Mas. Tapi siapa yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain."
"Itu kamu, Is!" Mas Marno sedikit berteriak, membuat genggaman mas Marno menjadi terasa sakit. Aku meringis, mas Marno melepas jemarinya.
"Mbak Yun, Mas, yang berkorban untuk kebahagian keluarga kalian! Sadarilah itu!"
Kulihat mas Marno diam, tak lagi membalas perkataanku. Aku tahu, ada cinta dalam hatinya, untukku. Tapi cinta itu tak boleh berkembang. Aku pupuskan, demi kebahagiaan mereka.
Kudengar pengumuman bahwa kereta yang akan aku naiki sudah sampai di stasiun. Pertanda bahwa aku harus segera mengakhiri perjumpaanku dengan mas Marno pagi ini. Bahkan untuk pagi-pagi selanjutnya.
"Mas, terima kasih untuk semuanya. Jagalah mbak Yun, juga bayimu. 9 tahun adalah waktu yang lama untukmu menunggu si kecil."
Mas Marno memandangku lekat. Tersirat sedih di wajahnya. Aku mengangguk, lalu mengambil koper dan tas jinjingku kemudian beranjak pergi tanpa menoleh lagi.
Ya, tanpa menoleh pada masa lalu yang menjadikanku sebagai istri kontrak supaya bisa memberi mas Marno dan mbak Yun anak untuk mereka. Meskipun akhirnya tak ada anak dari rahimku dan aku memutuskan pergi setelah mbak Yun hamil tiga bulan yang lalu.





