Parenting - Lifestyle - Crafting

Mau Menginap di Hotel Yang Dibangun di Tebing? Menginap Saja di Royal Tretes View Hotel, Pasuruan

| on
Thursday, August 03, 2017
Rekreasi dadakan ke air terjun Kakek Bodo di Tretes, Pasuruan, benar-benar diwujudkan. Rencana yang selalu kami tunda-tunda karena memang beberapa bulan belakangan ini, kami terkena musibah beruntun. Alhamdulillah, setelah suami menyelesaikan pelatihan di pabriknya, rencana ini terlaksana juga. Sabtu pagi, pesan kamar di Royal Tretes View Hotel melalui Traveloka, siang jam dua belas kami berangkat.

Sebenarnya, ke Tretes itu nggak butuh waktu lama. Tapi karena memang kami santai-santai berangkatnya ditambah lagi kami sering berhenti untuk istirahat, jadinya perjalanan ke Tretes memakan waktu 6 jam sendiri setelah menginjakkan kaki dari rumah. Belum lagi insiden mobil nggak bisa naik ke tanjakan, yang bikin kaki gemeteran dan perut terasa seperti diaduk-aduk.

Kami pernah ke Tretes sebelumnya. Saya sendiri, sudah dua kali ke Tretes. Pertama kali ke Tretes, ketika saya masih SMA dulu, belasan tahun sudah. Dan yang kedua kalinya, beberapa tahun yang lalu bersama keluarga. Tapi karena berangkatnya malam, jadinya nggak hafal jalannya belok kemana-kemana. Ditambah lagi, ketika berangkat dengan keluarga, ke Tretes masih lewat jalan by pass Sidoarjo-Pasuruan. Lha pas sama suami ini, kami lewat tol Sidoarjo-Pasuruan yang membuat kami akhirnya mau nggak mau mengandalkan Google Maps.

Karena Google Maps itu nggak ngasih tahu kalau ternyata jalan yang dia saranin itu adalah jalan pintas, kita mah percaya-percaya saja. Awalnya, bahagia karena benar-benar kami lewat di jalan pedesaan, yang bisa lihat sawah hijau semu-semu kuning, jalanan yang sempit dan berkelok tapi sedikit halus, udara yang dingin dan orang-orang yang lalu lalang dengan santai. Sampai pada sebuah tanjakan yang kelihatannya bisa dilewati seperti tanjakan-tanjakan sebelumnya. Lha kok, kurang sekitar tiga meter dari puncak tanjakan, mobil kami berhenti! Nggak bisa naik lagi! Mau diturunin lagi gigi persenelengnya, sudah nggak mungkin, lha udah perseneleng satu. Mau mundur pelan-pelan, takutnya nabrak sama kendaraan di belakang. Yang ada malah sayanya nyuruh suami buat hand rem saja trus berhenti jegrek di tengah jalan.

Sumpah, jangan kira kaya naik mobil off road. Lha wong city car dinekatkan naik tanjakan, ya wassalam. Mana pas berhenti, sisi kiri jalan itu sudah sawah yang agak menjorok ke dalam. Alamak, deg-degan dan tahan nafas dalam-dalam sambil wiridan semoga nggak kenapa-kenapa ini mobil. Untungnya, suami tangkas ambil keputusan dan memilih untuk pelan-pelan putar balik dan kembali ke jalan utama. 

Errr... cerita menuju hotel kepanjangan ya. Haish, tapi kudu diceritakan supaya nggak lupa. LOL. Insiden tadi itu menyadarkan kami bahwa nekat membawa city car ke area pegunungan itu nggak baik untuk kesehatan jantung. 

Menuju Royal Tretes View Hotel, sebenarnya kami agak-agak deg-degan juga karena jalanan menuju ke sana memang naik turun. Tapi tanjakannya masih bisa dilewati kok dengan mobil city car kami. Alhamdulillah, kami sampai di hotel, langit sudah mulai gelap karena sudah melewati azdan maghrib. Mungkin karena ketika itu minggu terakhir libur sekolah, jadinya kami agak-agak susah cari parkir yang enak karena sepertinya hotel sudah full booked.

Hotel yang Tampak Megah dan Klasik

Dari luar, hotel ini tampak megah sekali. Eksterior yang dibuat seperti bangunan ala Victoria, dengan pilar yang besar-besar dan jendela yang tinggi untuk menunjukkan bangunan yang klasik tapi mewah. Sayangnya, area parkir di depan hotel hanya cukup untuk beberapa mobil saja, mungkin karena terbatasnya lahan. Tapi nggak perlu khawatir, ada lahan parkir mobil di lantai enam.

Untuk memasuki lobi hotel, saya mengharapkan pintu masuk yang lebih besar sehingga nggak mengaburkan eskterior hotel yang mewah. Sayangnya, saya nggak menemukan itu. Daun pintunya biasa sekali, hanya terbuat dari kaca yang dilindungi oleh kayu-kayu. Ukurannya pun ukuran standart seperti yang dipakai di rumah-rumah. Setelah memasuki hotel, saya menemui hotel yang luas sekali karena jarak asbes yang sangat jauh dari lantai. Di sekitar lobi, saya melihat usaha pemilik hotel untuk menampilkan kesan klasik dengan cara menempatkan satu mobil klasik yang diletakkan dekat pintu masuk, lampu gantung bergaya klasik yang sangat besar dan tiga buah jam dinding klasik di atas pintu. 


Di sekitar lobi, ada tiga tempat makan sekaligus. Sebelah kanan setelah memasuki pintu, kita akan melihat restoran untuk tamu reguler alias yang tidak datang secara rombongan. Di sebelah kiri lobi, ada ruang makan yang dikhususkan untuk tamu yang datang secara rombongan. Dan di belakang lobi, ada sebuah cafetaria dengan banyak tempat duduk yang nyaman. Lobi dan cafetaria ini dipisahkan oleh sebuah akuarium berukuran sangat besar. Arya dan Fatin suka lihat ikan-ikan yang berenang sangat lambat di akuarium itu. Bahkan Arya membandingkan akuarium mini yang diletakkan suami saya di partisi di rumah kami dengan akuarium ini. LOL

Interior Kamar, Perpaduan Klasik dan Modern

Dengan harga Rp. 500.000,00 melalui Traveloka, kami mendapatkan suasana hotel yang lumayan nyaman, bersih dan tenang. Kamar yang kami tempati, standart seperti kamar hotel dengan rate segitu. Kamarnya luas sekali, ditambah lagi, penempatan perabotan yang pas sehingga masih menyisakan banyak ruang untuk anak-anak berlarian di dalam kamar. King size untuk tempat tidur yang diletakkan di tengah ruangan, dirasa cukuplah untuk kami berempat bermalam di sana. Di dalam ruangan ini, semua perabotan bergaya klasik dengan bahan yang digunakan adalah kayu.


Namun berbeda dengan kamar mandi. Ruangan dengan ukuran 3x4 meter ini, berisi perabotan modern, bahkan pernik-perniknya seperti gelas untuk kumur, tempat meletakkan peralatan mandi, dan gantungan baju serta handuk. Tersedia bath tub yang nyaman dengan pancuran untuk shower jika kita tidak ingin berlama-lama di kamar mandi. Sayangnya, penempatan lampu kamar mandi yang kurang pas atau lampu kamar mandinya hanya menggunakan lampu berwarna kuning, mandi di area bath tub jadi terasa sedikit kurang nyaman. Suasana menjadi agak gelap sehingga kami harus berhati-hati terutama ketika memandikan dua balita.

Yang membuat kami nyaman adalah karena adanya kassa nyamuk di jendela yang sangat besar, kalau kami ingin jendela tetap kami buka ketika malam hari. Kami nggak perlu khawatir digigit nyamuk ketika ingin mendapatkan angin segar karena nggak ada AC. Yang menarik lainnya adalah, pemandangan menipu ketika jendela kamar dibuka. Saya pikir, kami mendapatkan kamar di lantai satu karena kamar kami tinggal lurus saja dari lobi. Ternyata, kamar kami ini ada di lantai tujuh dari keseluruhan hotel yang jumlahnya ada delapan. Kalau dilihat dari struktur bangunan, ternyata lantai tujuh ini adalah lantai yang langsung menuju jalan raya, sedangkan untuk menuju ke lantai satu sampai enam, kita harus menaiki lift untuk turun ke bawah. 


Kalau dipikir-pikir, sepertinya yang punya hotel ini membangun hotel di tebing. Hm..

Sayangnya, kami harus registrasi ulang di lobi di pagi hari jika ingin terus bisa menggunakan kunci kamar berbentuk kartu. Kemarin, kami sempat kekunci dari luar. Kami pikir, karena nggak pas ketika menempelkan kartu ke alat detektornya. Saat ditanyakan di lobi, ternyata ada proses yang nggak praktis seperti itu. Hm.. *lagi...

Area Bermain yang Tenang

Meskipun kata suami semua kamar di hotel ini full boked melalui Traveloka, tapi tampaknya nggak demikian. Pagi-pagi, Arya sudah ribut minta berenang, meskipun dia sudah diberi tahu kalau airnya dingin sekali. Saya pikir, Arya akan lama berenangnya, seperti ketika dia berenang pagi-pagi ketika kami menginap di Klub Bunga Resort and Hotel akhir tahun lalu. Ternyata, nggak sampai setengah jam, dia dan suami sudah berlarian ke kamar karena ingin segera mandi air hangat.

Saya pikir, karena memang air yang dingin yang membuat Arya cepat berenangnya. Ternyata, suami cerita kalau di area bermain itu sepi pengunjung. Catatan sih buat saya, karena saya akan berkeliling hotel sembari menunggu Arya dan suami mandi.

Yang dikatakan suami itu benar. Suasana area beramain ini sepi oleh tamu hotel, padahal di area ini nggak hanya ada kolam saja lho. Ada beberapa permaianan anak-anak yang bisa dipakai secara bergantian serta tempat duduk dengan payung besar yang bisa dipakai orang tua ketika menunggui anak-anaknya bermain. Di sekitar kolam renang, juga terdapat lapangan serba guna yang sepertinya bisa dipakai untuk bermain voli atau bulu tangkis. Semua fasilitas ini, bisa ditempuh dengan naik lift sampai lantai tiga, kemudian menuruni tangga sampai menuju lokasi.


Hm... Ternyata area bermain ini nggak bisa menarik tamu hotel untuk bersenang-senang di sana. 

Fasilitas Hotel untuk Menyenangkan Hati Para Tamu

Seperti biasa, yang pertama kali dicari adalah wifi. Kebetulan sekali, saya memang mau streaming satu drama korea yang lagi tayang ketika weekend. Tapi rencana itu gagal total karena wifi di Royal Tretes View Hotel ini sangat-sangat-sangat nggak stabil. Ada lima list wifi milik hotel, tapi sama sekali nggak bisa diandalkan. Kecewalah. Huhuhu, untunglah saya sudah download drama lain yang akhirnya saya tonton sebelum subuh tiba.


Trus, ketika saya keliling hotel untuk melihat-lihat isi hotel, saya teringat bisikan suami tak lama setelah kami tiba di hotel, “cari souvenir gih, kali aja ada unik.”

Salah satu kebiasaan saya dan suami ketika rekreasi ke satu tempat, kami suka membeli souvenir yang dijual. Seperti ketika kami membeli bantal besar berbentuk telapak kaki harimau putih ketika kami rekreasi di Taman Safari, Pasuruan.

Saat saya akan turun menuju area bermain, saya melihat ada sebuah pigura besar yang membingkai peta lokasi hotel. Yang menarik, ada ruang untuk penyimpanan bir yang terbuka untuk umum tapi saya nggak berani masuk ke sana karena lorongnya sepi sekali, dan di lantai tiga, ada ruangan khusus untuk menjual souvenir. Cuzz lah saya untuk lihat-lihat souvenir hotel. Sayangnya, sampai saya muter-muter di lantai tiga, nggak ada namanya toko souvenir. Tanya petugas hotel, ternyata toko souvenirnya sekarang sudah berpindah di lantai tujuh, berdekatan dengan cafetaria dan hanya menjual barang pecah belah sisa import. Hm, kecewa sih ya, karena barang yang dijual sedikit sekali, jadi nggak banyak pilihan.


Karena malas naik lagi ke lantai tujuh, saya memutuskan untuk turun ke area bermain. Sebenarnya, saya tertarik dengan salah satu kolam berenang berbentuk seperti belahan botol yang airnya biru bersih sekali, dengan jaquzzi di dalamnya. Tapi sayangnya, untuk menuju ke sana, saya harus melewati tangga spiral karena pintu yang memisahkan kolam ini dengan kolam utama, ditutup. Karena ketika itu sedang menggendong Fatin, saya batalkan deh ke sana. Agak riskan juga kalau gendong bayi sambil turun di tangga berulir begitu untuk menuju lantai satu.

.
.

Meskipun ada beberapa kekurangan dari Royal Tretes View Hotel, sebenarnya untuk menginap di sini bisa menjadi pilihan. Suasananya tenang kok karena hotel ini agak jauh dari jajaran hotel-hotel yang lainnya. Nggak banyak mobil yang lalu lalang, meskipun jalan raya yang ada di depan hotel itu merupakan jalan utama. Di depan hotel (tinggal nyebrang aja) ada Alfamart yang buka sejak pukul enam pagi. Kalau kehabisan deodorant, tinggal lari sebentar ke sana. Di tambah lagi, hotel ini sebenarnya dekat dengan pasar dan pujasera yang menjual berbagai macam makanan. Tips dari saya biar dompet nggak kebobolan, pilih warung makan yang memberikan daftar harga di daftar menunya. Pengalaman kami kemarin, total makanan yang kami beli, bisa dua kali lipat andai kami membeli di warung makan yang memberi daftar harga di menunya. Untungnya, makanannya enak. LOL

_________

 Royal Tretes View Hotel
Jalan Gajah Mada 6-7, Tretes, Pasuruan, Jawa Timur
Tlp. 0343 - 881700
Fax. 0343 - 881758
www.royaltretesview.com
11 comments on "Mau Menginap di Hotel Yang Dibangun di Tebing? Menginap Saja di Royal Tretes View Hotel, Pasuruan"
  1. Fasilitas hotelnya mewah ya mbak. Tapi klo lokasinya di Tretes begitu kalau sama yang hotel jam-jaman haha..

    Kalau lagi pengen jalan dadakan, saya dan Mas Rinaldi biasanya cus ke Pandaan naik ke Kakek Bodi. Kalau pagi pemandangannya suegeeerrrrr. Pas ada tanjakan lihat ke belakang ngeri ngeri seneng :D

    ReplyDelete
  2. Jendela dgn kasa nyamuk itu sesuatuuu emang, apalagi kalo kamar hotelnya nggak pakai AC.
    Btw knp sepi pengunjung ya arena bermainnya, jd penasaran...hmmm.

    ReplyDelete
  3. Haduh lihat kolam renangnya yakin dan percaya Salfa ga bakalan bisa move on.

    ReplyDelete
  4. Wooow saya ngga ngira di Tretes ada hotel semegah ini mbak, dan full booked pula di akhir pekan yah. Tapi ngeri juga kalau hotelnya dibangun di tebing gtu...arrgh

    ReplyDelete
  5. Mbak berangkatnya lewat jalannya Makoya n Mang Engking itu bukan? Aku dulu pas ke sini juga di arahin lewat situ.. shalawat dan salam tak putus kami panjatkan, ngeri banget jalannya :D

    Wifinya cuma kenceng di area resepsionis mbak, di kamar disuruh kelon aja, haha. Area whirpoolnya udah bagus sekarang, dulu spooky banget suasananya

    ReplyDelete
  6. Asik ya hotelnya bernuansa klasik

    ReplyDelete
  7. tebing? agak sedikit ngeri dengernya yah mbak. cuma kayaknya kok kepingin yah cobain

    ReplyDelete
  8. Jadi pengin ke Tretes, terakhir 2 tahun lalu pas Lebaran.

    ReplyDelete
  9. Riaa iih....jelonk-jelonk ga ngajak-ngajak.
    Hahhaa...*lalu ditoyor ((siapa eloo?!)) wkkkwkwk...


    Tapi aku suka hotelnya.
    Meskipun jadi mati gaya yaa...karena wifi ngadat.
    Paling KZL kalo uda gini.

    Tapi sisi positifnya, mama Arkananta bisa menghabiskan waktu bersama kluarga.
    Quality time.

    ^^

    ReplyDelete
  10. Boleh juga ni hotel tretes view swimming pool nya menggoda.
    Harga juga relatif terjangkau ya kak

    ReplyDelete
  11. Dulu keluarga lebih suka sewa villa, tapi sekarang nginep dirumah sodara aja karena rumahnya cukup nampung banyak orang pas acara keluarga gitu

    ReplyDelete

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature