Salah satu perkara yang saya dan suami pikirkan saat Arya masuk SD adalah perkara antar jemput anak. Saat bapak saya masih hidup, beliau berjanji kepada cucu-cucunya akan mengantar-jemput mereka di mana pun mereka sekolah. Sekalian beliau mencari kegiatan setelah tidak lagi bekerja karena pensiun. Tapi ternyata Tuhan berkata lain terhadap keinginan hamba-Nya. Beliau meninggal dua tahun yang lalu dan meninggalkan PR pada saya dan suami untuk mencari jalan keluar terhadap perkara antar jemput ini.
Awalnya, Arya akan kami ikutkan layanan antar jemput yang disediakan oleh pihak sekolah. Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh saat kepala sekolah menjelaskan detail-detail layanan ini. Tapi, setelah saya diskusikan dengan suami, ternyata biaya yang dikeluarkan untuk layanan antar jemput anak sekolah sangat besar dan berada di luar budget bulanan kami. Hal itu dikarenakan rumah kami berada di ring terakhir dari lokasi sekolahnya Arya.





