Parenting - Lifestyle - Crafting

Boleh​ ​Nggak​ ​Sih​ ​Anak​ ​Satu​ ​Tahun​ ​Menggunakan​ ​Mainan​ ​untuk​ ​Anak​ ​Tiga Tahun​ ​ke​ ​Atas?​ ​Boleh!

| on
Monday, September 25, 2017

Ketika Arya lahir enam tahun yang lalu, saya dan suami memang sudah berkomitmen untuk nggak gampang membelikan Arya mainan baru. Selain ketika itu kami masih numpang di rumah ibu saya dan area untuk menyimpan mainan itu nggak ada, kami juga nggak membiasakan dia untuk apa-apa harus dituruti. Berhasil memang, tapi nggak selalu berhasil juga. Haish, bingung nggak sih?

Jadi gini, Arya ini kan dari keluarga saya dan suami, dia itu cucu pertama. Kalian semua tahu kan, kalau cucu pertama itu apa-apa banyak diturutinya dan banyak mendapatkan limpahan kasih sayang. Sering kali (apalagi kalau pas saya atau suami lagi nggak ada di rumah) dia dapat mainan baru dari kedua kakek neneknya. Meskipun nggak sering, tapi akhirnya mainannya jadi numpuk juga di rumah. PR tambahan lagi, melatih Arya untuk mau membereskan mainannya dan merawat mainannya dengan baik. Alhamdulillah, PR ini mulai menampakkan hasil.

Lalu, lahirlah Fatin. Anak ini sekarang sudah berusia satu tahun tujuh bulan. Dulu, saat usia Arya segitu, nggak banyak mainan yang dia punya. Sebenarnya untuk Fatin ini sama, malah saya belum membelikan mainan apapun untuk dia. Alasannya so simple, karena mainan Kakaknya masih bisa dia pakai dan masih pada bagus semua. Tapi ini anak banyak penasarannya, jadinya dia sering sekali ikutan gabung Kakaknya pas lagi mainan. Sedangkan Arya kan udah males gitu mainan yang buat usia setahun dua tahun, dia sekarang lebih suka mainan yang tingkat tantangannya lebih besar. Adiknya ikutan lihat juga. Akhirnya, ikutan pegang-pegang, terus rebutan, terus ramailah seisi rumah.


Kalau sudah seperti ini, saya nggak bisa dong membatasi keinginan Fatin untuk memainkan perlengkapan anak ini. Saya juga nggak mau menghentikan rasa ingin tahu dia juga. Jadi ya, akhirnya Fatin mainan juga mainannya Arya. Iya iya, beberapa mainan memang nggak sesuai umur dia. Entah karena potongannya kecil-kecil atau menggunakan bahan-bahan yang dirasa berbahaya untuk anak seusia Fatin.

Tapi saya dan suami nggak masalah. Fine-fine aja.

Ada beberapa mainan milik Arya yang sering dipakai sama Fatin, yang kalau dilabelnya, mainan ini untuk anak-anak usia tiga tahun ke atas.

Brick

Sejak usia Arya tiga tahun, suami saya sudah mengenalkan dia ke permainan-permainan bongkar pasang. Sempat Arya nggak minat dengan mainan ini. Tapi beberapa bulan kemudian, ketika saya membelikan dia brick seukuran Lego, dia senang sekali. Apalagi bentuk akhirnya adalah helikopter, motor dan mobil rescue yang dimasukkan dalam satu kotak. Belum lagi, makin ke sini dia sering dapat hadiah brick dari saudara-saudaranya. Sejak itu, mainan inilah yang sering dia pakai dan paling dia ingat kalau ada bagian-bagian yang hilang.


Melihat Arya yang setiap hari memainkan brick, baik yang ukuran kecil maupun besar, Fatin jadinya ikutan tertarik dong. Awalnya pegang-pegang aja, terus mulai ambil kepingan-kepingan yang menurut dia menarik, trus lama-lama dia mainkan. Kalau brick yang ukuran kecil, dia sukanya sama bentuk-bentuk figure macam yang bentuk orang, bentuk motor atau yang bentuk baling-baling helikopter. Yang paling dia suka, brick ukuran besar karena dia sering berhasil sih menggabungkan brick satu dengan yang lainnya. Kapan hari, dia hore-hore dan pamer karena berhasil menggabungkan tiga brick. Sesederhana itu.

Bean

Permainan bean ini sederhana sebenarnya. Hanya perlu menancapkan benda-benda kecil berwarna-warni berbentuk bulat ke papan. Yang membuat bean ini menantang adalah menancapkan bean ini untuk bisa menjadi suatu gambar dan bentuk. Untuk pemula, disediakan sebuah buku petunjuk berisi berbagai macam bentuk. Jadi, si anak bisa mengira-ngira dimana harus menancapkan bean warna ini dan itu supaya menjadi bentuk kapal misalnya.


Sejauh ini, Arya memainkan permainan ini masih sesuai dengan buku petunjuknya. Dia masih malas eksplorasi permainan ini. Seringnya, Permainan ini tergeletak begitu saja di rak mainan. Tapi ternyata, permainan ini manfaatnya besar sekali untuk Fatin.

Waktu pertama kali lihat kakaknya main, seperti ketika kenal brick, merebut begitu saja. Mengambil dan menggenggam untuk dibawa kemana-mana. Tapi lama-lama, dia belajar juga untuk menancapkan satu per satu bean ke papannya. Awalnya memang susah sekali, karena lubang di papannya itu kecil. Marahlah jadinya ini anak. Tapi lama-lama tanpa saya paksa, natural banget, dia bisa sendiri akhirnya. Gitu aja, dia udah hore-hore sambil angkat tangan tanda dia berhasil.


Setelah berhasil tancapkan bean, kemudian dia mencoba melepas bean dari papannya. Karena dia nggak tahu caranya mencabut, yang dia lakukan adalah membalik papannya dan menekan kaki bean yang tertancap di papan tadi sampai bean-nya lepas sendiri. Haha.. Yo weslah, yang penting semua bean lepas meskipun bean-nya malah jadi kemana-mana.

Spidol dan crayon

Awal-awal Fatin memainkan spidol, yang ada bukannya malah dipakai untuk menulis atau minimal menggoreskan spidol itu di kertas tapi malah mengemut ujung spidolnya. Yang ada malah lidah dan mulutnya berwarna-warni. Suami sayalah sampai negur karena memang kan kandungannya kita nggak ngerti itu aman nggak sebenarnya buat pencernaan dia.

Karena ketika itu Fatin memang masih pada tahap oral, jadinya kita serumah berusaha keras supaya dia nggak memasukkan spidol ke mulut. Ini susah sekali lho, beda banget dengan brick dan bean yang nggak ada kendala sama sekali buat melarang Fatin memasukkan ke mulut. Apa ngemut spidol ini sensasinya lebih menyenangkan ketimbang ngemut brick? Entahlah. Hanya Fatin yang tahu. LOL.

Crayon beda cerita. Kalian tahu kan kalau crayon itu dilapisi sama yang namanya kertas? Oleh Fatin, crayonnya berusaha dilepas sama dia. Sayanya nggak kurang akal dong, saya isolasilah satu per satu itu kertas supaya nggak gampang disobek. Segitunya sih saya? Iya, segitu banget. Lha kalau kertasnya udah lepas, crayonnya kan jadi mudah patah.

Tapi ini anak nggak kurang akal. Nggak bisa disobek, yang ada malah ngeluarin crayonnya dari kertasnya dengan cara menyundulkan jempolnya ke pangkal crayon sampai crayonnya terlepas dari kertasnya. Berhasil? Kadang. Kalau nggak berhasil, yang ada malah ujung-ujung jarinya jadi berwarna-warni karena crayon yang cuil.

Tapi ya, namanya anak yang makin bertambah umur, dia akan bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Lama-lama dia ngerti juga kok kalau spidol dan crayon itu untuk menulis, mewarnai, menggambar atau sekadar digores di kertas. Mungkin karena sering lihat Arya menggambar lalu menempelnya di tembok rumah atau di buffet di ruang tengah.

Playdoh

Khusus mainan ini, entah kenapa selalu saya sembunyiin dari Fatin. Berhubung Arya sendiri itu nggak terlalu exited juga dengan mainan ini, saya jadi sering lupa di mana menyembunyikannya. LOL.

Tapi, karena sekarang Fatin sudah ngerti gimana sensasinya pegang playdoh dan menekan-nekannya di lantai dengan jari telunjuk, playdoh jadinya saya letakkan bergabung dengan mainan Arya yang lain di rak. Alhamdulillah, sampai sekarang Fatin belum pernah menelan remahan playdoh, meskipun di jari-jari dia nempel semua playdoh yang dia cungkil-cungkil dari wadahnya. Dia bahagia sekali kalau sudah berhasil membuat goresan playdoh di lantai, hasil dari playdoh yang dia tekan kemudian di tarik panjang. Hihi, bagian beresin mainan, sayanya yang harus kikir goresan itu pakai silet karena udah kering dan ngga bisa diambil lagi.

.
.

Saya dan keluarga nggak terlalu ketat sekali soal aturan penggunaan mainan yang harus disesuaikan dengan usia anak. Saya sendiri nggak tega kalau melarang anak untuk tahu gimana rasanya memiliki mainan yang dia inginkan. Hanya saja, saya dan suami memang selektif sekali dengan mainan yang akan kami beli. Kalau sekiranya mainan itu berbahaya untuk mereka, saya keras sekali untuk melarang beli. Atau, kalau memang mainan sejenis masih bagus di rumah, saya harus mengatakan kepada mereka untuk menunda beli dan menunggu mainan di rumah rusak. Atau, kalau memang mainan itu benar-benar belum cocok dengan kemampuan mereka, saya cegah untuk membeli. Lebih baik menunda beberapa bulan sampai kemampuan untuk memainkan mainan itu mulai muncul.

Lalu, untuk Fatin yang pakai mainan Arya? Kami ada aturan-aturan sederhana yang kami jadikan pegangan.


Selalu mengawasi Fatin bermain, menjadi urutan pertama dalam peraturan kami. Kami juga nggak boleh bosan mengingatkan Fatin untuk nggak melakukan hal-hal berbahaya kalau dia memainkan mainan untuk anak usia tiga tahun ke atas. Menjauhkan benda-benda berbahaya dari dia, juga kami lakukan. Kami juga memotivasi Arya untuk mengajak adiknya bermain dan berbagi, minimal nggak ada sesi saling berebut. Kalau pun ada, nggak sampai nangis semua. Mau nggak mau, pintar-pintarnya kami juga mangalihkan perhatian ke mainan yang lain atau mangajari mereka arti dari ‘menunggu’ dan ‘meminta mainan dengan cara yang baik’.

Saya juga melatih Arya untuk mau mengingatkan dan menjaga adiknya kalau adiknya mulai melakukan hal-hal yang berbahaya seperti mulai usil menelan mainan ukuran kecil atau yang lainnya. Susah sih melatihnya karena anak seumuran Arya itu kan kalau sudah fokus sama apa yang dia lakukan, dia nggak peduli sama lingkungan sekitarnya. Tapi, memang harus dilatih supaya dia nggak cuek-cuek amat dan supaya muncul perasaan ingin menjaga adiknya.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature