Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

[Satu] Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel Di Blog Mama Arkananta

| on
Sunday, December 27, 2020
Proses Kreatif Menulis Blog


Saat menulis di blog, saya selalu menanamkan pada diri bahwa tulisan yang saya tuang harus saya garap dengan serius. Kalau kalian pembaca setia Mama Arkananta, pasti kalian sudah paham betul, bahwa hampir tidak ada tulisan saya yang panjangnya kurang dari 500 kata. Karena bagi saya, 500 kata itu jumlah yang masih kurang untuk menuangkan apa yang ada di dalam otak.

Memang iya, saya suka menulis panjang. Baik menulis di blog yang seputar opini, atau saat menulis fiksi. Itulah kenapa, saat 2013 lalu saya ikut dalam sebuah komunitas menulis pendek berupa flash fiction, saya menyerah di tengah-tengah. Hahaha ... Karena di peraturan pertama dari mereka, tulisan fiksi yang disetor panjangnya tidak boleh lebih dari 250 kata.

Untuk menghasilkan tulisan panjang ini, ada proses kreatif dibalik itu semua. Saya share saja ya di sini. Silakan diintip, dibaca atau boleh kok untuk disontek. Check this out, Beib!


Menemukan Tema Yang Sesuai Dengan Niche Blog


Mama Arkananta adalah blog palugada alias blog gado-gado. Meskipun begitu, tidak serta merta saya menulis banyak tema supaya tulisan saya jadi banyak. Ini malah membuat saya menjadi tidak fokus dalam mengembangkan blog. Keputusan saya adalah membuat tulisan yang sesuai dengan niche-niche yang sudah saya pilih dan saya kuasai.

Karena hanya ada beberapa niche yang saya tekuni untuk menulis di blog, seringkali tema-tema yang saya pilih itu tanpa sengaja memiliki niche yang saling berhubungan. Atau, sering juga saya menghubungkan beberapa niche dalam satu tema tulisan. Misalkan saja tulisan tentang review drama Korea ‘Itaewon Class’. Dalam review itu, selain mengulas sedikit tentang drama Itaewon Class, saya juga menulis dari sudut pandang parenting yang saya dapatkan setelah menonton drama ini.

Lalu untuk tulisan berbayar bagaimana?

Alhamdulillah, sejauh ini tawaran menulis untuk saya banyak yang niche-nya sesuai dengan yang ada di dalam blog Mama Arkananta. Sehingga untuk mencari tema tulisannya, tidak perlu memikirkan terlalu berat akan menulis apa nantinya.

Ada satu kalimat yang selalu saya gunakan dalam mencari tema tulisan (saya lupa ini kalimatnya siapa): Dalam menggali sebuah tema tulisan, gunakan semua indra yang kamu punya. Masukkan unsur perasaan di dalam semua indramu. Kemudian pilih yang paling menyentuh perasaanmu.


Membuat Draft Tulisan Sebelum Benar-Benar Menulis


Saat membuat draft untuk tulisan di blog, saya selalu menulisnya di kertas atau di note ponsel. Bukan karena apa, tapi karena saya ini pelupa. Saya menulisnya bukan di buku khusus draft yang saya bawa kemana-mana. Bukan. Tapi di kertas-kertas yang saya temukan ketika saya butuh, bahkan di lembaran tissue sekalipun. Itulah mengapa, selalu ada bolpoin di dalam tas saya.

Apa tidak lebih praktis di note ponsel? Kan tinggal ketik saja kalau di note ponsel.

Saya ini tipe yang mudah sekali teralihkan perhatiannya. Kalau menulis draft di note ponsel, selalu tergoda untuk membuka chat room dan media sosial. Dan lagi, ada kepuasan tersendiri saat menulis dengan menggunakan tangan, meskipun tulisan saya itu tidak bisa terbaca orang lain karena cepat-cepat menulisnya.

Dalam draft, saya menulis poin-poin secara garis besarnya dulu. Saya selalu menyebutnya dengan ‘draft besar’. Setelah ‘draft besar’ ini tertuang di kertas, biasanya saya diamkan dulu beberapa saat untuk masuk dalam tahap ‘pengendapan ide’.

Saat melalui proses ‘pengendapan ide’, biasanya akan muncul ide-ide baru yang berhubungan dengan ‘draft besar’ itu tadi. Kalau sudah begini, artinya saya sudah siap untuk memasuki tahap pengerjaan ‘draft kecil’ yang isinya lebih detail, karena nanti akan ada penggalian materi melalui searching dan diskusi.


It’s Time To Write!


Jika ‘draft kecil’ sudah siap, artinya saya sudah siap untuk menulis!

Saya bukan tipe yang sekali duduk, satu tulisan selesai. Apalagi saya ini suka menulis panjang. Itulah mengapa, saya selalu menyiapkan waktu khusus minimal dua atau tiga hari untuk mengetik satu tulisan. Akan ada beberapa kali saya berdiri untuk ambil air putih atau menyeduh kopi, makan cemilan, tiduran di lantai, atau mengecek chat room.

Saya tipe yang mudah bosan.

Tapi, saat mengalihkan kebosanan itu, saya tidak memindahkan posisi laptop dan tidak mematikan laptop. Karena ini satu-satunya pengingat bahwa jangan lama-lama untuk mengalihkan perhatian dari kebosanan saat mengetik tulisan.


Mencari Foto Yang Sesuai Dengan Tulisan Kita


Memberi foto yang cocok untuk tulisan kita itu wajib hukumnya. Jangan sekali-kali memberi foto yang tidak match dengan tulisan kalian, karena foto itu seperti menjelaskan isi tulisan secara tidak langsung.

Untuk memilih foto yang akan saya pakai di dalam tulisan, saya mengambil dari dua sumber:
  • Foto yang saya ambil sendiri
Sebisa mungkin, saya memberi foto dari jepretan saya sendiri. Tujuannya hanya satu, melatih saya dalam memotret banyak hal yang berbeda. Memang harus keluar dari zona nyaman, karena foto yang saya ambil untuk sebuah tulisan pasti akan semakin beragam temanya, sesuai dengan ragam tulisan saya.

  • Dari website penyedia foto gratisan
Kalau waktunya sudah mepet sekali, biasanya saya ambil foto melalui jalan ninja, yaitu mengambil dari website-website penyedia foto secara gratis. Salah satu website yang sering saya kunjungi adalah Pixabay. Tinggal memasukkan kata kunci yang berhubungan dengan isi tulisan, dan taraaa ... akan banyak puluhan foto yang bisa kita pilih.


Lakukan Beberapa Kali Proof Reading


Sebelum tulisan saya lempar ke publik, wajib untuk saya melakukan proof reading. Tujuannya untuk menemukan kesalahan saat menulis, seperti kesalahan dalam menulis tanda baca, penulisan sebuah kata, atau ejaan. Selain itu, saat melakukan proof reading biasanya saya berusaha menemukan kalimat-kalimat yang mungkin tidak masuk dalam logika tulisan secara keseluruhan.

Dalam satu tulisan, saya biasa melakukan dua atau tiga kali proses proof reading. Prosesnya begini:

(1) Proses proof reading yang pertama, saya berusaha untuk menemukan tanda baca dan ejaan yang salah. (2) Proof reading yang kedua, saya berusaha menemukan kalimat-kalimat yang tidak masuk dalam logika kepenulisan secara keseluruhan. Kalau saya rasa dua kali cukup, saya langsung publish. (3) Tapi kalau tulisannya panjang dan sedikit berat, saya melakukan proof reading ketiga untuk benar-benar memastikan bahwa logika kepenulisan saya sudah kokoh.

.
.

Demikian ya sebagian proses kreatif yang biasa saya lakukan untuk menghasilkan sebuah tulisan. Memang belum keseluruhan sih ya saya tulis proses kreatifnya, karena rencananya akan saya buat dalam dua tulisan saja biar tidak panjang-panjang. Bagaimana, apakah proses kreatif kalian dalam menulis di blog sama dengan saya ataukah malah berbeda? Share yuk di kolom komentar, supaya saya juga bisa baca proses kreatif kalian juga.
2 comments on "[Satu] Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel Di Blog Mama Arkananta"
  1. aku ga seruntut itu, mbak. Kadang dapat judul baru buat outline, kadang mikir gambar barulah muncul tulisan. Kadang sampai kebawa mimpi, hehe

    ReplyDelete
  2. Keren kak semua artikel di buat dengan sangat bagus dan tersusun rapih dari segi tulisan dah keliatan hehe
    Beda sama aku yang nulis masih ngasal hehe

    ReplyDelete

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature