Mama Arkananta

Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Minum Teh Rosella Dengan Cengkeh, di Atas Ayunan Bersamaku

| on
Sunday, January 24, 2021


24 Januari 2021.

Untuk Ria,
yang sekarang sedang menatap ponsel,
karena sedang membaca surat ini.

Januari sudah hampir berakhir.
Apa kamu sudah bikin spread sheet untuk Februari di buku jurnal? Ah, aku ingat, buku jurnal kotak-kotak hitam dan putih yang kamu pesan secara custom melalui Shopee. Ternyata, jurnal itu awet juga isinya. Padahal dibilang tebal, nggak banyak juga jumlah lembarannya. Tapi melihat isi jurnal itu sudah terpakai rapi, aku ikutan senang. Hari-harimu tampak sudah mulai lebih teratur sekarang.

Ria,
Waktu berlalu begitu cepat ya? Tahu-tahu, Januari 2021 sudah hampir habis, dan Februari sudah siap untuk menyambut. Apa kamu sudah siap menyambut Februari, Ri?

Oh jangan ... jangan ... jangan malah jadi over thinking dong, Ri.
Karena tahun baru, saatnya kamu membuka lembaran baru dengan hati yang lebih tenang.
Meskipun aku tahu, kamu belum bisa melepaskan apa-apa yang menjadi penyesalanmu di tahun 2020 kemarin.

Lha? Kok malah nangis sih?
Puk, puk, sini aku peluk dulu. Kamu memang nangisan kalau udah overthinking gini deh.
Itulah kenapa, aku nggak berani lepasin kamu sendiri kalau sudah mulai masuk di jam overthinking-mu. Bakal nggak kelar-kelar nangisnya.

Okey, kepalang tanggung, ayo kita bicara soal ini.
Mungkin sedikit menyakitkan, tapi bicarakan apa yang menjadi bahan over thinking-mu, mungkin akan membantumu menemukan titik balik dari semua yang belum kamu selesaikan di tahun 2020 kemarin.

Ada satu penyesalan terbesarmu.
Kurang memperhatikan detail.
Kamu pernah bercerita tentang ini, dua atau tiga bulan sebelum tahun 2020 berakhir.
Dulu aku pikir, kenapa kurang memperhatikan detail saja, membuatmu uring-uringan.
Sekarang aku paham, kenapa kamu menyesal kurang memperhatikan detail-detail yang ada di tahun 2020 kemarin.

Kamu jadi merasa kehilangan banyak momen.
Momen-momen penting dari hubunganmu dengan suamimu, dengan Arya dan Fatin, dengan keluargamu, bahkan dengan teman-temanmu. Ah, aku lupa menyebutkan satu lagi, dengan murid-muridmu.

Karena kurang memperhatikan detail, kamu jadi merasa bersalah ke suami dan dirimu sendiri.
Rasa bersalah yang muncul karena sering kali kamu merasa egois.
Kamu yang terlalu memperhatikan dirimu sendiri dan sibuk dengan aktifitasmu sendiri.
Untungnya kalian menyadari ada yang sedang ‘tidak baik-baik saja’. Untungnya lagi, kalian mau berusaha sekuat tenaga mengembalikan semuanya seperti sedia kala.

Kalian berdua jungkir balik mengembalikan segala kondisi menjadi normal kembali. Membetulkan apa-apa yang kurang, memperbaiki apa-apa yang salah, dan membicarakan apa-apa yang menjadi ganjalan di hati. Meskipun semua butuh waktu untuk menjadi lebih baik, tapi aku bangga, karena kalian berdua sudah lebih tenang sekarang.

Mari kita tinggalkan sejenak cerita rumah tanggamu. Mari bicarakan tentang Arya dan Fatin.

Masih ingat malam itu kamu menangisi perbincangan dengan ibumu tentang caramu mendidik Arya dan Fatin? Tahu siapa yang menjadi obyek pembicaan Beliau? Bukan anak-anakmu, tapi malah dirimu sendiri obyeknya. Iya, dirimu Ri.



Dan kamu membenarkan jugdement beliau.
Kemudian kamu menangis semalaman sampai besoknya matamu bengkak, lalu bingung bagaimana mengempeskan mata yang bengkak karena kamu ada piket untuk datang ke sekolah. Hahaha, kalau ingat itu aku ingin ketawa.

Lalu di malam selanjutnya kamu banyak intropeksi diri.
Aku bangga, meskipun aku ikut sedih karena kamu banyak menyalahkan dirimu sendiri karena kurang sabar ke kedua malaikat kecilmu. Lagi-lagi, kamu menyadari karena kamu sendiri luput memperhatikan detail-detail tumbuh kembang mereka. Kamu tidak bisa mengimbangi informasi yang mereka berikan karena kamu terlalu acuh.

Ah, sudah, sudah.
Matamu sudah mulai berair lagi kan?
Kali ini jangan banyak menangis. Cukup teteskan air mata satu atau dua tetes saja, karena kamu sudah banyak menangis kemarin.

Ria,
Ayo semangati dirimu sendiri, ayo menguatkan dirimu sendiri.
Karena sumber kekuatan untuk menjalani momen perbaikan diri ini, berasal dari dirimu sendiri.
Kamu tahu betul soal ini.



Berhari-hari kamu berkutat dengan itu.
Aku percaya bahwa kamu akan melakukan itu semua. Bukan hanya kamu simpan dalam jurnal kotak-kotak hitam putihmu itu.

Ria,
Jangan sering-sering over thinking ya. Aku tahu, banyak sekali yang kamu pikirkan selain dua hal yang kita bahas di sini. Sesekali istirahatkan otakmu, istirahatkan hatimu. Kalau sudah sangat suntuk, ayo kita bicara di ayunan sambil minum teh bunga rosella yang biasa kamu campur dengan cengkeh.

Membuat Target di Tahun 2021

| on
Sunday, January 17, 2021

Saat pergantian tahun tiba, tidak sedikit dari kita yang membuat resolusi untuk satu tahun ke depan sebagai bentuk keinginan untuk mengubah diri menjadi lebih baik. 

Saya pribadi, sudah berhenti membuat resolusi sejak ... dua tahun yang lalu. Bukan karena saya tidak ingin menjadi lebih baik, tapi lebih karena saya ingin menyelesaikan apa-apa yang belum saya selesaikan di tahun sebelumnya. 

Dua tahun yang lalu, di tahun 2019, saya menyelesaikan beberapa target yang tidak selesai di tahun 2018. Karena tahun 2018 saya sedikit agak goyah karena ada beberapa masalah yang harus saya hadapi, dan itu ternyata mempengaruhi resolusi yang saya buat di awal tahun. Lalu di tahun 2020, saya tidak membuat resolusi lagi. Karena saya merasa butuh membongkar dan memperbaiki banyak hal di tahun itu, salah satunya adalah masalah keuangan pribadi dan keluarga. 

Untuk tahun 2021 ini, saya sebenarnya tidak membuat resolusi lagi. Tapi, karena Ning Blogger Surabaya membuat challange mingguan dan temanya minggu ini adalah tentang resolusi, saya mencoba untuk menuliskan beberapa daftar yang ingin saya penuhi selama satu tahun ke depan. 


Perbaiki Kebiasaan Beribadah 

Berbicara tentang kebiasaan beribadah, diri ini masih banyak kekurangannya. Perkara sholat yang wajib saja, masih terbilang sulit mendisiplinkan. Apalagi perkara ibadah lain yang mengiringi kesempurnaan sebagai umat Islam. Malulah hamba ini, ya Allah. 

Bismillah, ayo lebih giat lagi beribadah, Ria. Tidak usah banyak berbicara di sini, tapi ayo banyak praktek supaya hatimu lebih tenang. 


Lebih Berhemat Lagi 

Setiap orang memiliki barang kesukaan untuk menghabiskan uang yang dimiliki. Ada beberapa dari kita yang suka belanja baju untuk dirinya sendiri atau untuk anak-anaknya, properti foto, perabotan rumah, tanaman-tanaman cantik di pot, dan beberapa barang lainnya yang tak jarang barang itu juga menjadi pelengkap hobi. 

Sedangkan saya, suka belanja stationery dan hal-hal yang berbau kertas. Mata saya selalu berbinar-binar saat melihat barang-barang lucu dan penuh warna yang dipajang di toko stationery atau di e-commerce. Keinginan untuk membeli notebook, washi tape, brush pen, atau paper scrap itu, sulit sekali untuk dibendung. 

Di pertengahan 2020, saya merapikan dan membuang barang-barang yang saya rasa tidak saya perlukan. Termasuk merapikan barang-barang stationery saya. Saat melihat tumpukan kertas dan printilan ini, dalam hati saya berkata, ternyata saya sudah membuang banyak uang untuk hal-hal yang tidak saya habiskan. Apa saya mau membuat lebih banyak gunungan stationery lagi? 

Selain stationery, saya ingin menahan keinginan untuk membeli printilan k-pop. Sumpah ya, printilan k-pop itu menggoda sekali, Sodara! 

Ada satu kalimat sederhana dari para K-Pop-er: 
K-Pop memang bisa memecahkan segala permasalahan kita. Tapi tidak bisa memecahkan permasalahan keuangan kita. 

Apalagi saya sekarang ngefans parah di dua grup idol, EXO dan Victon. Godaan ini akan lebih besar serangannya saat mereka comeback karena album yang bervariasi, photocard dan postcard saat ada event dari agensi, akhir tahun saat mereka mengeluarkan seri Season Greating, bahkan saat akun-akun base mengeluarkan project dengan barang-barang yang lucu-lucu. 

Sebenarnya, semua itu bisa diakali sih belinya. Bisa saja beli album only dengan harga lebih murah dan barangnya sudah ready di Indonesia. Tapi jadi tidak seru karena tidak bisa ikutan nge-hype bareng teman-teman yang lain. Atau, beli printilan Season Greating, bisa diakali dengan beli secara sharing. Jadi, tinggal memilih dan membeli printilan yang saya suka saja. Kalau Season Greating, lagi-lagi, saya selalu mengincar diary atau notebook


Mulai Serius Berinvestasi 

Setelah bongkar dan perbaiki masalah keuangan di tahun 2020 kemarin, akhirnya tahun ini saya memutuskan untuk berinvestasi dengan lebih serius lagi. Memang sedikit terlambat, tapi itu lebih baik daripada saya tidak mencoba sama sekali. 

Sebenarnya, keinginan ini berawal dari obrolan saya dengan salah satu murid saya yang sudah lulus dan dia sudah memiliki usaha sendiri, padahal dia masih kelas XI. Awalnya dia bertanya tentang mengatur keuangan untuk remaja. Obrolan kami berlanjut sampai ke masalah investasi. 

Dari situ saya menggumam dalam hati, ah, lebih tepatnya merutuki diri. Siswa saya saja sudah mulai belajar tentang keuangan yang sehat dan ingin mengenal investasi. Lalu apa saya hanya berhenti di sini saja memandangi buku tabungan dengan miris? 


Gali Kemampuan Diri 

Setelah mencoba beberapa hal baru di dua tahun belakangan ini, akhirya saya memutuskan untuk lebih giat lagi menggali kemampuan dalam hal memotret, hand lattering, dan menulis

Menjadi blogger dan memiliki akun Instagram, ternyata membuat saya menjadi lebih giat lagi untuk seriusi potret-memotret. Beberapa teman blogger, seringkali beralih menjadi teman sharing teknik foto dan apapun yang berbau potret-memotret. Senangnya, seringkali dari mereka malah saya dapat input yang mungkin bisa saya dapatkan dengan cara ikut workshop

Untuk handlattering, saya sempatkan membeli buku-buku dasar teknik handlattering. Memang saya sudah pernah belajar menulis indah ini, tapi karena saya merasa kurang dalam hal teknik, sepertinya saya perlu belajar lagi. 

Kalau perkara menggali menulis, lebih karena saya ingin mengurangi kesulitan-kesulitan saya saat menulis di blog dengan mencari cara-cara yang lebih efektif lagi. Karena seperti yang pernah saya tulis dulu, disiplin itu kuncinya. 


Membaca Lebih Banyak Buku 

Membaca adalah jendela ilmu. Betul sekali. Tapi dengan beribu alasan, membaca buku jadi bukan lagi sebuah prioritas. Padahal saya sendiri paham, dari sebuah buku saya bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup, kosakata baru, rangkaian diksi yang bisa saya pelajari, ide-ide baru untuk menulis di blog atau bahkan materi baru untuk saya sampaikan ke siswa-siswa saya di kelas. 

Itulah mengapa, mari meneguhkan diri untuk lebih banyak membaca buku di tahun 2021 ini, Ria! Tidak udah memasang target, Ri. Tapi tulis saja di dahimu, bahwa kamu butuh buku untuk menambah wawasan dan membantumu berkembang menjadi lebih baik


Istirahat Yang Cukup 

Ketika seseorang diberi waktu 24 jam dan diberi banyak target atau kegiatan yang dia suka, pasti orang itu akan berkata waktunya kurang. Bahkan ketika Tuhan memberi dia waktu 50 jam pun, dia akan tetap berkata kurang. 

Bahkan saya pun pernah mengeluhkan seperti ini. Padahal manusia bukan robot, badan manusia butuh istirahat. Sesibuk-sibuknya manusia dengan aktifitas yang dia miliki dan dia sukai, manusia tetap butuh istirahat. Bahkan ketika Tuhan memberi waktu 24 atau 50 jam sehari, manusia tetap harus memikirkan berapa waktu yang akan dia luangkan untuk istirahat

Melihat ke belakang, saya sendiri menyadari kalau saya butuh sekali istirahat yang cukup. Apalagi ketika melihat lingkar hitam di mata saat di depan kaca yang semakin tampak jelas. Mengeluhkan waktu yang kurang, bukan lagi sebuah jalan keluar. Sekarang yang harus saya lakukan adalah membagi waktu dengan efektif supaya tubuh ini bisa istirahat dengan baik, sehingga aktifitas keesok harinya tidak terganggu. 


Lebih Memperhatikan Detail 

Mungkin beberapa dari kalian berfikir, mengapa ‘lebih memperhatikan detail’ saya masukkan ke daftar keinginan saya di tahun ini. 

Jujur saja, tahun 2020 kemarin, saya melewatkan banyak hal untuk saya ingat detailnya. Entah karena kesibukan saya, entah karena saya yang kurang memperhatikan, entah saya kurang rajin mencatat apa saja yang terjadi selama satu tahun, atau entah karena apa. 

Lalu di akhir tahun 2020, saya menyesali beberapa hal yang berhubungan dengan detail ini. Dan ini membuat saya menjadi overthinking dan menangis beberapa kali. 

Di tahun ini, saya ingin lebih memperhatikan detail-detail yang berhubungan dengan saya dan orang-orang di sekitar saya. Karena saya yakin, detail-detail ini nantinya akan bermanfaat ke depannya bagi saya untuk menentukan langkah apa saja yang akan saya tempuh supaya saya tidak terjebak dalam situasi yang sulit

Apa perlu dicatat? Ya, sepertinya perlu!

Kesulitan-Kesulitan Saat Menulis di Blog

| on
Sunday, January 10, 2021

Menjadi blogger memang sebuah pilihan yang ternyata menyenangkan. Sering saya sampaikan begitu ke teman dan siswa saya. Beberapa teman sudah paham, bahwa saya memulai menulis di blog itu sebagai healing atas masalah besar yang saya alami dulu. Setelah melewati masalah itu, menulis di blog ternyata memang semenarik itu. Karena saya (dan blogger lainnya) dipersilakan untuk memilih dan menulis apa saja yang ada di otak kami. 

Tapi justru itu adalah tantangan, yang kalau tidak kami hadapi, hal yang paling parah terjadi adalah kami berhenti menulis. Iya, berhenti menulis! 

Meskipun kami dipersilakan memilih dan menulis apa saja ide yang ada di otak, sebenarnya menulis blog tidak semudah membalikkan lembaran buku. Karena ada proses kreatif saat menulis artikel yang kami lalui dan ada beberapa kesulitan yang harus saya atasi secara pribadi. 

Secara pribadi, ada beberapa kesulitan saat menulis di blog. Mungkin beberapa dari kalian kesulitannya sama, nanti silakan share di kolom komentar ya! 


TIDAK KONSISTEN MENULIS


Sebenarnya kesulitan terbesar dalam melakukan kebaikan adalah disiplin, yang dalam kata lainnya adalah konsisten. Padahal, sejak tiga tahun yang lalu, saya menanam niat dalam diri bahwa saya menulis di blog untuk menyampaikan kebaikan, meskipun hanya sedikit. 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain 
(HR. Ahmad, Ath-Thabrani ad-Daruqutni) 

Hadits ini menggema sekali setiap saya memikirkan ide-ide yang berkeliaran di kepala. Karena selain harta, saya ingin bermanfaat kepada orang lain melalui dua hal, yaitu saat saya mengajar dan saat saya menulis

Tapi sungguhlah, konsisten itu sulit. Bahkan setelah menulis target untuk menuliskan beberapa ide dalam satu bulan di buku jurnal, tetap konsisten itu sulit. 



Konsisten menulis di blog bagi saya ada dua, yang pertama konsisten untuk terus menulis, kapan pun dan dimana pun. Dan yang kedua konsisten untuk terus mengetik saat sudah di depan laptop. 

Kalau yang pertama, yang selalu menjadi alasan kegagalan adalah kekurangmampuan saya untuk mengatur jadwal sehari-hari. Saya harus membagi waktu antara mengajar, menulis, suami dan anak, serta kegiatan domestik di rumah. Tapi Alhamdulillah, sekarang mulai terbantu dengan bullet journal. Spread sheet di bullet journal benar-benar bisa membantu saat saya mulai oleng untuk menulis. Kapan-kapan ya, saya cerita tentang bullet journal

Kesulitan konsisten yang kedua, itu karena saya punya perhatian pendek alias perhatian saya mudah teralihkan. Entah teralihkan karena ramainya situasi di sekitar saya atau teralihkan karena ponsel yang selalu memberi notifikasi. Biasanya, saya atasi dengan menulis malam hari sebelum tidur atau dini hari, di saat benar-benar sepi dari keramaian dan notifikasi media sosial


KESULITAN MENULIS DENGAN JUMLAH KATA KURANG DARI 500 


Beberapa teman yang dekat dengan saya, mereka pasti memahami betul kalau saya ini cerewet. Saya suka bercerita apapun yang saya tahu, bahkan bisa dengan suara yang lantang. Dan itu ternyata menular saat saya menulis di blog. Saya suka menulis dengan jumlah kata yang banyak

Kata mbak Tika pemilik blog www.kotakwarna.com, saya ini tipe pemilik napas panjang. Iyap, sekalinya menulis, banyak yang ingin saya sampaikan. Bukan karena idenya yang banyak, tapi percabangan idenya yang banyak. Apa-apa ingin saya masukkan dalam tulisan saya, karena saya merasa selalu ada yang kurang jika harus terpotong di tengah-tengah. 

Kalau dapat job menulis dengan kata yang tidak terlalu banyak bagaimana? 

Alhamdulillah sih, sejauh ini belum pernah mendapatkan job menulis dengan jumlah yang dibatasi. Paling mentok, ada pembatasan minimal kata. Yang paling sering, brief yang saya terima tidak boleh menulis kurang dari 300 atau 500 kata. 

Tapi ya tetap, hasilnya bakalan panjang. Hahaha... 

Kadang kala saya merasa memang butuh direm kemampuan seperti ini, karena takutnya pembaca merasa bosan dengan tulisan saya. Ada dua cara yang biasanya saya lakukan. 

Yang pertama, menuliskan percabangan ide yang saya rasa benar-benar penting saja. Sedangkan percabangan ide lain yang tidak saya gunakan, saya keep dan saya tulis di jurnal. Siapa tahu bisa jadi kepala ide untuk tulisan baru. 



Cara yang kedua, menulis semua percabangan ide dalam satu tulisan tapi saya bagi menjadi dua artikel atau dua link. Cara seperti ini memang lebih mudah, karena saya sudah memiliki tulisan yang sangat panjang. Tinggal membagi dua dan memberi opening di masing-masing artikel supaya orang tahu kalau dua artikel ini saling bertautan. 

Tapi, sepertinya menulis dengan jumlah kata yang sangat banyak juga sering saya lakukan sih. Apalagi saat menulis dengan tema traveling. Tapi supaya pembaca tidak bosan, saya selingi dengan gambar dan penulisan kalimat yang menarik, seperti penulisan kalimat dengan huruf besar kecil dan penggunaan text highlight color
.

Sebenarnya ada beberapa lagi kesulitan saya dalam menulis di blog. Tapi karena kali ini saya sedang latihan menulis tidak lebih dari 1000 kata, jadi dua kesulitan ini dulu ya yang saya bahas. 

Kalau kalian, kesulitan menulis di blog apa saja? Share yuk di kolom komentar. Kalau bisa, sekalian cara mengatasinya ya. Siapa tahu, saya bisa belajar dari apa yang sudah kalian sampaikan. Salam. 

[Satu] Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel Di Blog Mama Arkananta

| on
Sunday, December 27, 2020
Proses Kreatif Menulis Blog


Saat menulis di blog, saya selalu menanamkan pada diri bahwa tulisan yang saya tuang harus saya garap dengan serius. Kalau kalian pembaca setia Mama Arkananta, pasti kalian sudah paham betul, bahwa hampir tidak ada tulisan saya yang panjangnya kurang dari 500 kata. Karena bagi saya, 500 kata itu jumlah yang masih kurang untuk menuangkan apa yang ada di dalam otak.

Memang iya, saya suka menulis panjang. Baik menulis di blog yang seputar opini, atau saat menulis fiksi. Itulah kenapa, saat 2013 lalu saya ikut dalam sebuah komunitas menulis pendek berupa flash fiction, saya menyerah di tengah-tengah. Hahaha ... Karena di peraturan pertama dari mereka, tulisan fiksi yang disetor panjangnya tidak boleh lebih dari 250 kata.

Untuk menghasilkan tulisan panjang ini, ada proses kreatif dibalik itu semua. Saya share saja ya di sini. Silakan diintip, dibaca atau boleh kok untuk disontek. Check this out, Beib!


Menemukan Tema Yang Sesuai Dengan Niche Blog


Mama Arkananta adalah blog palugada alias blog gado-gado. Meskipun begitu, tidak serta merta saya menulis banyak tema supaya tulisan saya jadi banyak. Ini malah membuat saya menjadi tidak fokus dalam mengembangkan blog. Keputusan saya adalah membuat tulisan yang sesuai dengan niche-niche yang sudah saya pilih dan saya kuasai.

Karena hanya ada beberapa niche yang saya tekuni untuk menulis di blog, seringkali tema-tema yang saya pilih itu tanpa sengaja memiliki niche yang saling berhubungan. Atau, sering juga saya menghubungkan beberapa niche dalam satu tema tulisan. Misalkan saja tulisan tentang review drama Korea ‘Itaewon Class’. Dalam review itu, selain mengulas sedikit tentang drama Itaewon Class, saya juga menulis dari sudut pandang parenting yang saya dapatkan setelah menonton drama ini.

Lalu untuk tulisan berbayar bagaimana?

Alhamdulillah, sejauh ini tawaran menulis untuk saya banyak yang niche-nya sesuai dengan yang ada di dalam blog Mama Arkananta. Sehingga untuk mencari tema tulisannya, tidak perlu memikirkan terlalu berat akan menulis apa nantinya.

Ada satu kalimat yang selalu saya gunakan dalam mencari tema tulisan (saya lupa ini kalimatnya siapa): Dalam menggali sebuah tema tulisan, gunakan semua indra yang kamu punya. Masukkan unsur perasaan di dalam semua indramu. Kemudian pilih yang paling menyentuh perasaanmu.


Membuat Draft Tulisan Sebelum Benar-Benar Menulis


Saat membuat draft untuk tulisan di blog, saya selalu menulisnya di kertas atau di note ponsel. Bukan karena apa, tapi karena saya ini pelupa. Saya menulisnya bukan di buku khusus draft yang saya bawa kemana-mana. Bukan. Tapi di kertas-kertas yang saya temukan ketika saya butuh, bahkan di lembaran tissue sekalipun. Itulah mengapa, selalu ada bolpoin di dalam tas saya.

Apa tidak lebih praktis di note ponsel? Kan tinggal ketik saja kalau di note ponsel.

Saya ini tipe yang mudah sekali teralihkan perhatiannya. Kalau menulis draft di note ponsel, selalu tergoda untuk membuka chat room dan media sosial. Dan lagi, ada kepuasan tersendiri saat menulis dengan menggunakan tangan, meskipun tulisan saya itu tidak bisa terbaca orang lain karena cepat-cepat menulisnya.

Dalam draft, saya menulis poin-poin secara garis besarnya dulu. Saya selalu menyebutnya dengan ‘draft besar’. Setelah ‘draft besar’ ini tertuang di kertas, biasanya saya diamkan dulu beberapa saat untuk masuk dalam tahap ‘pengendapan ide’.

Saat melalui proses ‘pengendapan ide’, biasanya akan muncul ide-ide baru yang berhubungan dengan ‘draft besar’ itu tadi. Kalau sudah begini, artinya saya sudah siap untuk memasuki tahap pengerjaan ‘draft kecil’ yang isinya lebih detail, karena nanti akan ada penggalian materi melalui searching dan diskusi.


It’s Time To Write!


Jika ‘draft kecil’ sudah siap, artinya saya sudah siap untuk menulis!

Saya bukan tipe yang sekali duduk, satu tulisan selesai. Apalagi saya ini suka menulis panjang. Itulah mengapa, saya selalu menyiapkan waktu khusus minimal dua atau tiga hari untuk mengetik satu tulisan. Akan ada beberapa kali saya berdiri untuk ambil air putih atau menyeduh kopi, makan cemilan, tiduran di lantai, atau mengecek chat room.

Saya tipe yang mudah bosan.

Tapi, saat mengalihkan kebosanan itu, saya tidak memindahkan posisi laptop dan tidak mematikan laptop. Karena ini satu-satunya pengingat bahwa jangan lama-lama untuk mengalihkan perhatian dari kebosanan saat mengetik tulisan.


Mencari Foto Yang Sesuai Dengan Tulisan Kita


Memberi foto yang cocok untuk tulisan kita itu wajib hukumnya. Jangan sekali-kali memberi foto yang tidak match dengan tulisan kalian, karena foto itu seperti menjelaskan isi tulisan secara tidak langsung.

Untuk memilih foto yang akan saya pakai di dalam tulisan, saya mengambil dari dua sumber:
  • Foto yang saya ambil sendiri
Sebisa mungkin, saya memberi foto dari jepretan saya sendiri. Tujuannya hanya satu, melatih saya dalam memotret banyak hal yang berbeda. Memang harus keluar dari zona nyaman, karena foto yang saya ambil untuk sebuah tulisan pasti akan semakin beragam temanya, sesuai dengan ragam tulisan saya.

  • Dari website penyedia foto gratisan
Kalau waktunya sudah mepet sekali, biasanya saya ambil foto melalui jalan ninja, yaitu mengambil dari website-website penyedia foto secara gratis. Salah satu website yang sering saya kunjungi adalah Pixabay. Tinggal memasukkan kata kunci yang berhubungan dengan isi tulisan, dan taraaa ... akan banyak puluhan foto yang bisa kita pilih.


Lakukan Beberapa Kali Proof Reading


Sebelum tulisan saya lempar ke publik, wajib untuk saya melakukan proof reading. Tujuannya untuk menemukan kesalahan saat menulis, seperti kesalahan dalam menulis tanda baca, penulisan sebuah kata, atau ejaan. Selain itu, saat melakukan proof reading biasanya saya berusaha menemukan kalimat-kalimat yang mungkin tidak masuk dalam logika tulisan secara keseluruhan.

Dalam satu tulisan, saya biasa melakukan dua atau tiga kali proses proof reading. Prosesnya begini:

(1) Proses proof reading yang pertama, saya berusaha untuk menemukan tanda baca dan ejaan yang salah. (2) Proof reading yang kedua, saya berusaha menemukan kalimat-kalimat yang tidak masuk dalam logika kepenulisan secara keseluruhan. Kalau saya rasa dua kali cukup, saya langsung publish. (3) Tapi kalau tulisannya panjang dan sedikit berat, saya melakukan proof reading ketiga untuk benar-benar memastikan bahwa logika kepenulisan saya sudah kokoh.

.
.

Demikian ya sebagian proses kreatif yang biasa saya lakukan untuk menghasilkan sebuah tulisan. Memang belum keseluruhan sih ya saya tulis proses kreatifnya, karena rencananya akan saya buat dalam dua tulisan saja biar tidak panjang-panjang. Bagaimana, apakah proses kreatif kalian dalam menulis di blog sama dengan saya ataukah malah berbeda? Share yuk di kolom komentar, supaya saya juga bisa baca proses kreatif kalian juga.

Bersyukur; Minggu Pertama Desember 2020

| on
Sunday, December 13, 2020


Saat itu sore hari, sedikit mendung dengan hawa yang sedikit dengin untuk ukuran kota Gresik yang selalu gerah dan panas. Saya, suami, dan adik saya sedang duduk di ruang keluarga. Di depan kami ada Arya dan Fatin, yang kala itu Fatin masih bayi. Sekitar tiga tahun yang lalu.

Ketika itu Bapak masih segar waras, datang dari arah dapur. Diam sejenak sambil berdiri bersandar di tembok. Sambil melihat kami bercengkerama, beliau tiba-tiba berucap begini :

Waktu itu terasa berlalu begitu cepat kan? Itulah pertanda kalau kita itu menerima banyak rezeki dari Allah. Karena hati senang terus, tidak pernah mengeluh karena kekurangan rejeki.

Setelah Bapak meninggal, saya terus mengingat-ingat perkataan beliau ini. Karena kita sering kali memang luput untuk bersyukur dan mengingat-ingat apa saja yang membuat kita bersyukur.

Kemudian ketika ditanya tentang apa saja yang membuat saya bersyukur minggu ini, saya berusaha menceritakan ke kalian apa saja daftarnya. 


Baca juga:




Selesainya Rangkaian PAS Arya


Salah satu trigger stress ibu-ibu adalah ketika masa ujian sekolah anaknya datang. Saya salah satu yang masuk di lingkup ibu-ibu itu. Karena pendidikan di Indonesia masih mengutamakan perihal pencapaian nilai baik untuk kenaikan kelas atau kelulusan sekolah, alasan ini menjadi salah satu alasan ibu-ibu (termasuk saya) 'menekan dirinya sendiri' , dengan alasan ingin mendampingi anaknya belajar supaya bisa mengikuti ujian dengan baik dan hasil yang memuaskan. 

Biasanya, sebelum masa ujian datang, saya sudah stres. Over thinking, memikirkan apa saja yang akan saya lakukan supaya masa ujian ini berlangsung dengan baik. Over thinking ini berlanjut sampai masa ujian berlangsung. Kalau masa ujian belum selesai, seolah tidur tidak bisa tenang. Berlebihan ya sepertinya, tapi memang itu yang terjadi pada diri saya sendiri. Dan ini berlangsung sejak Arya masuk SD. 

Tapi berbeda dengan PAS semester ganjil kali ini. Setelah melewati 'sesi konseling' dengan Ibu, saya mencoba untuk banyak-banyak bersabar dan tidak over thinking dalam hal mendampingi Arya belajar untuk ujian PAS. 

Hasilnya, kali ini saya lebih santai. Saya mencoba untuk menerima bahwa PAS adalah cara Arya untuk melatih kemandirian dia dalam belajar, dan saya sebagai orang tuanya hanya sebagai pendamping dan pemberi semangat

Setiap pagi, saya hanya berdoa semoga saya diberi banyak kesabaran untuk hari itu. Doa ini saya ulang sebelum mendampingi Arya belajar. Selain itu, saya banyak memeluk dan mengatakan bahwa Arya sudah melakukan yang terbaik hari ini. Hasilnya, dia banyak memeluk saya, dan terlihat kalau dia lebih nyaman belajarnya. 




Bertemu Another Alice


Salah satu fansgirling goal idol Korea adalah bertemu teman yang juga suka nge-fansgirling. Hohoho, dan saya bersyukur bertemu dengan Gadis Sidiq, pemilik blog www.gadzotica.com, yang domisilinya di Surabaya. Dan kami beberapa kali bertemu di beberapa event yang mengundang blogger di sekitar wilayah Surabaya. 

Karena EXO sedang tidak banyak aktifitas grup, saya jadi oleng ke grup lain dong. Salah satunya, Victon. Grup besutan Play M Entertainment yang debut tanggal 9 November 2016 ini, ternyata menarik perhatian saya sekali. Membernya terdiri dari Han Seung Woo, Kang Seung Sik, Cho Byung Chan, Lim Sejun, Heo Chan, Do Hanse dan Jung Subin. Mereka benar-benar menarik perhatian saya sekali, mengalahkan olengnya saya ke Pentagon. Wkwkw. Vibe-nya seperti saat saya kenal EXO untuk pertama kalinya dulu. 



Yang saya ingat, saya ikut reply twit Gadis dengan Depik, blogger Surabaya lainnya. Sejak itu, saya dan Gadis banyak ngobrolin Victon. Sebagai baby Alice (Alice adalah nama untuk penggemar Victon), saya banyak dapat info dari Gadis tentang masing-masing member. Kehaluan sebagai fans sudah memenuhi direct messenge kami di Instagram. Link-link dari Gadis banyak masuk note untuk disimpan, termasuk link variety show atau video hidden gems dari Victon. Screen shot wajah tampan atau aib member pun jadi bahan obrolan yang tiada henti. 

Kata Gadis, "beneran deh Mbak, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata suka k-pop. Besok kita unboxing album bareng-bareng sama Depik ya!" 

Okeyyy!!! Siap-siap PO album ya, Dis!! 




Bincang Rame dengan Lendy Tentang EXO


Kenal sama Lendy ini sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, saat ada acara Kumpulan Emak Blogger di Surabaya. Dia perempuan manis asal Surabaya yang sekarang stay di Bandung sama keluarga kecilnya. 

Blog dia dengan alamat www.lendyagasshi.com, isinya banyak mengulas tentang Korea, terutama drama. Dan ternyata, dia ini ELF, penggemarnya Super Junior. Ya elah, lagi-lagi ketemu sama teman yang kesukaannya tidak jauh-jauh dari EXO. FYI, Super Junior ini 'kakaknya' EXO karena lebih dulu debut dan satu agensi dengan EXO, SM Entertainment. 

Sekarang, dia sedang oleng ke NCT, 'adiknya' EXO. Katanya, dia merasa muda. Karena merasa butuh teman ngobrol dan sebagai bahan isi konten podcastnya, kapan lalu kami ngobrolin NCT di akun podcast dia. Seru sekali, hahaha, secara aku juga dapat insight baru soal NCT dari seorang ELF. 


Eh, kok ya, tiba-tiba Lendy ajakin saya ngobrolin EXO. Lagi-lagi, untuk bahan konten podcast-nya. Saya sih, senang-senang saja. Secara saya suka bincang-bincang seru model gini tentang EXO. Senangnya, meskipun Lendy seorang ELF, tapi dia asyik-asyik saja rumpiin EXO. Obrolan kami tidak jauh-jauh dari soal member, lagu-lagu EXO yang terkenal, sampai EXO ke depannya bakal bagaimana. Rasanya, empat puluh menit tidak cukup. Karena masalah teknis saja, akhirnya sesi rumpinya harus kita akhiri dulu. 

Pan kapan, kita ngerumpiin yang lain ya, Lend! Tentang drama Moon Lover Scarlet Heart Ryeo juga okeh lho! 




Selesaikan Jadwal Video Call Siswa 


Salah satu kendala kegiatan belajar masa pandemi adalah kesulitan guru Bimbingan Konseling mengadakan sesi bimbingan kelompok dan konseling pribadi. Banyak keterbatasan untuk guru BK jika memang kami dipaksa untuk mengadakan sesi ini. Karena sesi ini, sebenarnya memang lebih luwes diadakan secara tatap muka, karena selain hasil wawancara siswa, gestur dan mimik wajah juga jadi acuan membantu masalah siswa. 

Tapi, bagaimana pun juga, namanya program sekolah tetap harus dilakukan, apapun caranya. Termasuk kegiatan bimbingan kelompok dan konseling individu. Salah satu cara yang saya pakai untuk bimbingan kelompok adalah video call per kelompok dengan jumlah siswa tidak lebih dari delapan orang. Media yang saya pakai adalah video call melalui aplikasi Whatsapp. 

Alhamdulillah, siswa-siswa saya antusias. Meskipun sistem penyampaian materinya saya gunakan sistem presentasi per siswa untuk tiap kelompok. Mereka tidak malu, mereka mau mendengarkan presentasi temannya dengan hikmat, dan mau menerima masukan-masukan dari saya dengan baik, juga bertanya jika ada yang tidak mereka mengerti atau ketika mereka bimbang dengan pilihannya. 

Beberapa kali saya dapat chat melalui jalur pribadi, meminta diadakan video call lagi. Rupanya banyak dari mereka yang ketagihan. Mungkin karena mereka sudah kangen dengan sekolah, kangen bertemu teman-temannya, kangen beraktifitas di luar. 

Dan jujur saja, mengadakan sesi video call seperti ini dengan siswa-siswa saya dalam kelompok-kelompok kecil, ternyata memberi saya semangat baru. Rupanya, saya juga rindu bertemu mereka secara offline dan rindu mengadakan sesi bimbingan konseling di ruang BK.

.
.

Sebenarnya masih banyak hal yang saya syukuri di minggu ini. Tapi kalau saya jabarkan lagi, blogpost ini tidak akan selesai dengan cepat dan malah membuat kalian bosan membacanya. Kapan-kapan lagi ya saya cerita tentang rasa syukur. Asyik juga ternyata kalau dibuat blogpost begini. Ternyata dibalik rasa syukur, ada hikmah dan kebahagiaan di sana.

Hydra Rose Series, Produk Terbaru dari Wardah untuk Kulit Dehidrasi

| on
Wednesday, December 09, 2020
Wardah hydra rose series
credit Female Daily

Di tengah banyaknya merk baru untuk produk skincare, kita sering kali bingung akan memilik merk apa untuk dicoba demi kulit wajah yang lebih terawat. Mau coba merk baru, terkadang belum yakin betul kalau belum banyak yang review. Jalan satu-satunya yang banyak dipilih adalah kembali menggunakan merk yang sudah lalu lalang di dunia skincare dan memiliki banyak review yang positif. 

Salah satu merk yang sampai sekarang masih saya pakai adalah Wardah. Merk lokal yang sudah konsisten selama 25 tahun ini, saya pakai beberapa produk skincare-nya dan produk dekoratifnya. Sejauh ini, kulit saya tidak pernah bermasalah dengan produk Wardah yang sudah pernah saya pakai. 

Custom Post Signature

Custom Post  Signature