Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Cara Mudah Mengatur Keuangan Sebelum Berinvestasi

| on
Sunday, August 30, 2020


Mengatur keuangan, bagi saya adalah langkah awal dalam berinvestasi. Menurut pengertiannya, investasi adalah menempatkan dana dalam satu periode untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Sebelum benar-benar meletakkan uang yang saya punya pada produk investasi yang bermacam-macam itu, saya berusaha dahulu untuk mengolah keuangan yang saya pegang sebaik mungkin. Baik keuangan pribadi maupun keuangan keluarga.

Dalam mengatur keuangan, baru benar-benar saya lakukan selepas kuliah. Saya termasuk perempuan yang terlalu malas keluar dari zona nyaman ketika itu. Kondisi ini, malah membuat saya boros dan minim aktifitas menabung. 


Ketika mencari pekerjaan, barulah dari sana saya menyadari, kalau saya tidak mengatur keuangan sesegera mungkin, maka saya akan bangkrut. Bangkrut dalam artian saya akan menanggung malu minta-minta orang tua terus-menerus untuk sekadar memenuhi kebutuhan pribadi.

Saya atur ulang keuangan saya. Tidak banyak yang bisa dihasilkan dari menjadi guru les anak SD. Tapi Alhamdulillah, saya tidak lagi meminta uang untuk membeli pembersih wajah atau pembalut.

Ketika ada yang peribahasa 'Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit', itu benar adanya. Saya sisihkan tabungan saya dalam celengan khusus dari kaleng biskuit. Wkwkw. Sengaja tidak saya letakkan di bank karena malu. Nabungnya cuma sedikit.

Alhamdulillah, menjadi GTT di SMP Negeri dapat merubah pola berfikir saya dalam mengolah uang yang saya dapatkan tiap bulan. Membaca obrolan ini itu dari para ASN atau teman-teman GTT lainnya perkara gaji dan insentif, membuat saya semakin teguh untuk mengatur keuangan dengan lebih baik lagi.

Saya mencoba untuk membagikan apa saja yang sudah saya lakukan untuk mengamankan kondisi keuangan saya di masa depan. Semoga bermanfaat ya. Oh iya, kalau ada yang mau sharing, boleh kok tulis di kolom komentar ^_^


Baca juga :


Menabung


Bagi saya, menabung ini hukumnya wajib. Menabung bukan menyimpan uang sisa selama periode penggunaan uang, tapi menabung adalah menyisihkan sejumlah uang terlebih dahulu, sebelum uang itu terpakai untuk keperluan sehari-hari.

Paham tidak ya sama penjelasan saya?

Pemasukan tetap saya adalah dari gaji mengajar dan pemberian suami (di luar uang bulanan). Dari dua pemasukan ini, saya ambil terlebih dahulu untuk tabungan beberapa pos. Saya, Arya, Fatin, dan ibu. Sisa uangnya? Lanjut yuk ke penjelasan selanjutnya.


Menyiapkan Pos Harian


Pos harian saya ada dua. (1) Pos untuk kebutuhan rutin dan (2) pos untuk kebutuhan pribadi. Kebutuhan rutin ini seperti uang untuk beli bensin, kuota internet, pulsa, skincare, dan beberapa kebutuhan rutin lain. Sengaja saya masukkan skincare ke dalam kebutuhan rutin karena saya udah aware banget sama kulit saya. Dan asupan skincare ini tidak boleh putus.

Pos kedua adalah kebutuhan pribadi. Pos ini isinya buat hore-hore. Semacam another world buat saya. Kebutuhan fashion dan printilan K-Pop, salah satu yang masuk di pos ini. Meskipun another world buat saya, tapi tetap saya batasi jumlahnya. Saya kan bukan keturunan sultan yang bisa beli album K-Pop puluhan ribu biar bisa ikut fansign. Wkwkw.




Menghitung Pos untuk Dana Taktis


Dana taktis di sini ada tiga pos. Dana darurat, dana pensiun, dan investasi.

Setelah ikut ngobrol bebas bahas keuangan dengan dua praktisi keuangan di tahun 2019 kemarin, saya rombak total pos-pos dana taktis ini. Baca ini itu tentang penghitungan dana taktis ini, lalu memilih yang tepat untuk kondisi keuangan saya.

Meskipun suami saya punya tabungan untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu di masa depan yang bisa menganggu keuangan kami, saya tetap menyiapkan dana darurat. Mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang dimiliki suami, tapi memiliki dana darurat ini, sudah bisa membuat saya bernafas lega.

Untuk dana pensiun, lebih karena saya GTT yang tidak mendapat tunjangan pensiun setelah  tugas mengajar kelar nanti. Mau tidak mau, saya harus siapkan dana pensiun dari sekarang. Minimal, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.


Catat Keuangan dengan Detail


Termasuk mencatat pembelanjaan online.

Ada yang bilang, yang luput dari pencatatan itu adalah belanja online dan bayar parkir. Hahaha, ada benarnya memang. Kalau belanja online, karena transaksinya online, bentuk uangnya tidak tampak. Jadi seperti loss gitu saja.

Kalau bayar parkir, karena cuma 2000 rupiah untuk motor atau 5000 rupiah untuk mobil (ukuran parkir di pasar ya), jadi seperti lewat begitu saja. Uang kecil, tidak perlu diingat atau ditulis. Kalau kalian masih seperti ini, perlu belajar lagi sama ibu-ibu yang uang kembalian 500 rupiah saja harus dicatat.

Untuk catatan keuangan, saya sendiri punya dua buku jurnal. Karena saya suka journaling dan kegiatan hias-menghias buku, saya catatnya ya manual begini. Kalau kalian suka pakai aplikasi, silakan cari aplikasi yang nyaman buat mencatat keluar masuknya uang kalian.

Mencatat keuangan ini penting banget supaya saya bisa tracking uang saya kemana saja larinya. Nggak ujug-ujug bingung sendiri, duit sudah menipis di dompet dan rekening tapi lupa dipakai untuk apa saja.




Tahan Keinginan dan Hemat


Beberapa kali bincang-bincang dengan teman-teman penganut hidup hemat, saya akhirnya memahami beberapa hal. Bahwa barang yang diproduksi di dunia ini tidak akan pernah berhenti. Yang bisa menghentikan produksi itu adalah kemauan kita untuk membeli barang yang diperlukan saja.

Tahan keinginan bukan berarti saya pelit. Hemat bukan berarti saya tidak mau memuaskan keinginan saya. Tapi lebih pada membebaskan diri dari kegelisahan karena tidak bisa membeli barang yang ada di depan mata.

Bonusnya, kalau ada sisa uang lebih, bisa jadi tambahan di pos dana darurat, investasi atau dana pensiun. Bahkan, kadang kemampuan menahan keinginan ini, bisa menyisakan jumlah dari pos kebutuhan pribadi lho. Lumayan kan?







10 comments on "Cara Mudah Mengatur Keuangan Sebelum Berinvestasi"
  1. Sampai sekarang, aku belum mempraktekkan catat mencatat pengeluaran mbak. Mbuh yo, males aja nyateti nominal kecil. Tapi ya gitu sadar gak sadar tau-tau habis aja. Untung selalu ingat tadi habis dipake apa-dipake apa.

    Yang paling saya lakukan sekarang sih berhemat buat dana darurat. Daripada beli bakso, mending makam nasi sama dadar telur kalau menu di rumah lagi gak srek di hati๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  2. Belajar membedakan keinginan dan kebutuhan kayaknya yang penting buat saya, terlebih pandemi ini, saya udah lebih banyak membedakan kebutuhan dan keinginan.
    udah jarang beli-beli, kalaupun ada paketan, rata-rata barang endorsan hahaha.

    Btw itu gambar emasnya bikin ngiler Mbak, andai saya punya emas segitu, mungkin udah saya jual, takut hilang hahaha.

    kalau ngomongin mencatat, saya sering on off, padahal betul banget tuh, kalau dicatat keliatan banget mana post kebutuhan, mana keinginan, dan jadi tahu, mana yang harus di hemat ya.

    Baca ini jadi semangat nulis pengeluaran lagi deh :)

    ReplyDelete
  3. Kalau aku biasanya dapat gaji, aku tumpuk dulu di tab hore-hore. Nantu kalau sudah mencapai batas misal 1 jt, aku pindah ke tab utama.sisanya masuk tab jajan

    ReplyDelete
  4. Tahan keinginan untuk belanja yang tak dibutuhkan nih mba yang emang penting banget. Kdang khilaf kebablasan belanja. Makasih tipsnya mba :)

    ReplyDelete
  5. Mantuuulll bgt tipsnya Mbaaa
    Terutama part ini-->
    Tahan keinginan bukan berarti saya pelit. Hemat bukan berarti saya tidak mau memuaskan keinginan saya. Tapi lebih pada membebaskan diri dari kegelisahan karena tidak bisa membeli barang yang ada di depan mata.

    ReplyDelete
  6. yang dihighlight tentang barang yang diproduksi di duni ini aku auto keinget handphone, tapi mau nggak mau kudu ganti hape ya. 2 tahun gitu selalu memorynua cepat habis, meski sudah dipindah gak sampai sebulan full lagi huhuhu jadi curcol kan wkwk

    ReplyDelete
  7. Wah mba udah rajin ya sejak kuliah, aku malah dapat ilham dan sadarkan diri buat atur keuangan sejak nikah asli dulu borosnya ga mufakat banget..

    kalau urusan catat mencatat sih aku semangat diawal selanjutnya malesss wkwk

    ReplyDelete
  8. Saya percaya berapapun penghasilan kita, selama kita tak mengaturnya dengan bijak, kita tidak akan pernah mempunyai "cukup". Uang masuk=uang keluar dan bisa jadi malah minus.

    Dengan mengatur melalui mencatat dan mengalokasikan, Insya Allah semua dicukupkan. Kuncinya kita harus disiplin ya Mbak

    ReplyDelete
  9. Aku dari kecil sering lihat mama yg nggak konsumtif. Jadi terbawa deh ๐Ÿ˜„ kalau butuh baru beli2an. Setuju.. bukan berarti pelit ya mba. Dan kalau bisa ngerem ada kepuasan tersendiri buat aku..nice sharing mbaa

    ReplyDelete
  10. Mengatur keuangan memang penting ya biar hidup juga teratur, tidak kelabakan.

    ReplyDelete

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature