Menyeduh secangkir kata yang kebanyakan berisi lifestyle, beauty, parenting dan psikologi, yang semoga bermanfaat untuk orang lain

Katanya, Tak Tahu 7 Hal Ini, Maka Tak Sayang Sama Pemilik Blog Mama Arkananta

| on
Sabtu, April 17, 2021
Ria Rochma

Saya memang sudah lebih dari lima tahun menulis di blog. Tapi itu bukan hal yang perlu dibanggakan, karena blog saya ini rasanya hanya jalan di tempat. Kalau pun maju, majunya juga enggak sampai yang berlari cepat.

Meskipun menulis merupakan salah satu passion saya, tapi jujur saya akui, saya enggak sepenuhnya menaruh perhatian saya di sini. Perhatian saya terbagi dengan kehidupan dan pekerjaan di real life. Jadi saya paham sekali kenapa blog ini seolah jalannya lambat dan tidak banyak di kenal orang.

Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi bolehlah saya menceritakan ulang sedikit tentang saya, pemilik blog Mama Arkananta. Kalau kalian sudah kenal sama saya, bolehlah dibaca ulang. Kalau baru kenal, silakan baca sampai akhir, lalu tinggalkan komentar supaya kita bisa saling kenal.


Guru Bimbingan Konseling


Beberapa teman blogger yang kenal saya sudah lama, mungkin sudah tahu kalau pekerjaan saya adalah guru. Tapi tidak semuanya tahu kalau saya ini guru bimbingan konseling. Ya memang bukan hal yang perlu banyak diceritakan ke orang ya, karena memang pekerjaan ini bagi saya adalah pekerjaan yang bermain dengan hati. Jadi wajar sih kalau tidak banyak yang tahu kalau saya guru bimbingan konseling.

Sebenarnya, menjadi guru bukan cita-cita saya sejak kecil. Bahkan saya mengambil kuliah pun, bukan jurusan ilmu pendidikan. Malah saya ambil jurusan Psikologi, karena saat itu saya sangat suka memperhatikan orang-orang di sekitar saya.

Saat masuk di semester enam, sebenarnya saya berencana mengambil beberapa mata kuliah pilihan yang berhubungan dengan dunia industri. Pekerjaan impian saya adalah bekerja di departemen HRD di sebuah perusahaan, yang kerjanya duduk di balik meja, lalu bebas menggunakan sepatu hak tinggi kesukaan saya, dan bergumul dengan kertas-kertas laporan.

Guru Bimbingan Konseling



Tapi entah kenapa, beberapa hari sebelum mengurus KRS, hati saya oleng ke mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan. Sampai pada pilihan di semester tujuh mengambil program Akta 4 supaya bisa kerja jadi guru.

And here I am! Guru bimbingan konseling. Yang tetap kerja di balik meja, selalu menggunakan sepatu hak tinggi kesukaan saya, dan bergumul dengan kertas laporan. Bedanya, saya sekarang bahagia karena setiap saat bisa bertemu dengan murid-murid saya, dan bisa membantu mereka ketika mereka kesulitan dengan masalah yang mereka hadapi.


Suka Menulis Karena Almarhum Bapak


Siapa diantara kalian yang dulu atau bahkan sampai sekarang suka menulis diary?

Yang mengenalkan dunia tulis-menulis itu almarhum Bapak. Saya pernah cerita sekilas di sini, saya pernah diberi sebuah agenda untuk menuliskan kejadian-kejadian penting selama saya hidup. Kata Bapak, menulis kejadian saat kita hidup itu penting, karena itu akan menjadi sejarah yang mungkin tidak akan ditulis di buku pelajaran manapun.

Tapi entah kenapa, malas sekali rasanya untuk menulis kejadian-kejadian yang bakal menjadi sejarah di Indonesia atau bahkan di dunia. Bapak berulang kali mengingatkan untuk menulisnya, tapi malah masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Kemudian entah apa yang menggerakkan hati Bapak untuk memberi saya sebuah diary warna hijau muda dengan gembok kecil. Kata beliau, “Terserah mau kamu isi apa. Untuk menulis rahasiamu juga boleh.”

Ucapan Bapak seolah seperti menyuruh saya membuka pintu kemana saja yang membawa saya ke sebuah kebiasaan yang asing tapi menyenangkan. Dan sampailah di sini, saya bersenang-senang dengan dunia menulis.


Menyimpan Quote Dari Dialog Drama dan Film


Kebiasaan saya saat menonton drama atau film adalah men-screen shoot dialog yang menurut saya menarik, memiliki makna yang dalam, dan bisa menjadi sebuah quote. Lalu menulisnya dengan bolpoin warna-warni di sebuah agenda yang sudah saya hias dengan washi tape.

Quote Drama


Pernah seorang teman terang-terang bilang ke saya, kalau saya seperti kurang kerjaan saja melakukan itu. Saya hanya tersenyum, karena memang aktifitas ini ternyata membuat saya lebih mengerti tentang perasaan-perasaan yang dimiliki orang lain.

Lalu mengapa dibela-belain menulisnya di buku?
(a) Karena saya tidak mungkin menyimpan file screen shoot itu lama-lama di ponsel. Memori ponsel saya menjerit ntar ya
(b) Percaya tidak kalau kita membaca lalu menulis ulang, maka kita akan semakin meresapi apa yang kita baca tadi? Yah, itu yang sedang saya lakukan!
(c) Karena saya suka menulis pakai tangan!


Tema Tentang Korean Pop (KPop) Mulai Ditulis di Mama Arkananta


Kata Lendy Aghashi selepas kami ngerumpi di podcastnya dia, “Ri, tulis dong tentang talent-talent-nya SM Entertaiment. Atau, minimal tulis dong tentang EXO di blogmu.”

Saat itu saya menolak, karena saya masih nyaman dengan hanya menulis review drama Korea saja. Padahal ketika itu Lendy bilang, saya lancar bicarakan seluk beluk KPop (padahal mah saya hanya sebongkah debu di lautan KPop). Saya bilang ke Lendy, kalau saya enggak mau membawa kebucinan saya soal KPop ke area blogging. Karena menurut saya, branding saya di dunia blogging biarlah tentang parenting, beauty dan lifestyle.

Blogger penyuka KPop


Ternyata yang kata kebanyakan KPop-er bahwa jalur karma dalam dunia KPop itu ada, benar-benar kejadian di saya dong.

Saya suka EXO, karna jalur karma setelah bilang sama murid saya kalau saya belum tertarik sama KPop. Saya suka Victon karena saya pernah bilang bahwa lagu-lagu solo Han Seungwoo (ex-leader Victon) enggak begitu menarik. Dan saya akhirnya menulis tentang KPop setelah saya menolak usulan Lendy. Beberapa tulisan tentang KPop, bisa kalian baca melalui judul di bawah ini.

Baca Juga :


Paper Crafter?


Saya enggak menyebut diri saya sebagai paper crafter, tapi saya menyebut diri saya sebagai orang yang suka bermain-main dengan kertas.



Dulu, saya sempat tekuni scrapbook dan membuat handmade diary. Malah menghasilkan uang dengan berkreasi di sana. Sampai pada titik dimana saya dan beberapa teman menggalang dana dari sebagian hasil penjualan karya kami untuk sebuah lembaga peduli anak terlantar.

Tapi, setelah Arya semakin besar dan pekerjaan jadi guru semakin menyita pikiran, saya lepas pelan-pelan mainan scrapbook. Lalu saya beralih membuat handmade greeting card. Sering ikut swap dengan crafter lain saat ada event-event yang berhubungan dengan paper craft. Menyenangkan, karena dengan ide sederhana saja, apresiasinya besar.

Sekarang, saya malah asyik bermain bullet journal. Membuat spreadsheet setiap bulan, ternyata menyenangkan. Dunia segitu tenangnya saat saya menempel washi tape di atas buku jurnal, menggores ujung bolpoin untuk membuat kolom, membuat doodle sederhana, atau saat menulis dan menghias dengan brush pen.


Bullet Journal


Beberapa kreasi saya, bisa kalian lihat di Instagram yang saya buat khusus untuk bermain-main dengan kertas. Namanya instagramnya saja Kreasi Dluwang. Dluwang itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya kertas.


Belajar Ulang Hand Lattering dan Water Coloring


Masih berhubungan dengan kertas, sekarang saya juga belajar lagi hand lattering dan mulai menjamah water coloring. Kata teman satu kantor, kok sempat sih belajar dua hal ini?

Ada alasan khusus sebenarnya kenapa saya memilih belajar ulang hand lattering dan water coloring. Tapi kapan-kapan ya saya buat artikel tersendiri. Itulah alasan kenapa poin enam ini tidak saya gabung di poin lima, padahal sama-sama bermain dengan kertas.

Belajar Hand Lattering



Sebenarnya, belajar dasar-dasar hand lattering sudah pernah saya pelajari saat saya masih SMA. Dengan bantuan seorang teman, saya belajar up stroke, down stroke, membuat garis tipis dan tebal, lengkungan dan beberapa dasar dalam hand lattering. Tapi pelajaran itu terhenti setelah kami lulus dan saya tidak lagi semangat untuk melanjutkan karena tidak ada yang menyemangati. Ah, saya memang kurang berusaha saja saat itu.

Kalau water coloring, baru beberapa bulan ini saya belajarnya. Dari dulu selalu kagum dengan karya-karya yang berhubungan dengan water color. Entah yang memang langsung digores di atas kertas dengan menggunakan cat air, atau yang yang dibuat secara digital dengan aplikasi digital painting.


Belajar Water Coloring


Pernah Terjun di Dunia Menulis Fiksi


Iyaaaaaa ... saya pernah terjun bebas dalam dunia menulis fiksi. Sejak kapan? Sejak saya SMP!

Saya dulu suka menulis fiksi di buku tulis khusus, mengetiknya dengan mesin tik, lalu mengirimnya di majalah-majalah anak dan remaja. Dan yap, bisa ditebak, tulisan saya enggak ada yang dimuat. Beberapa kali saya dapat surat pemberitahuan penolakan terbit. Saya menyerah, dan saya menutup mesin tik saya dengan kain supaya tidak terkena debu.

Tapi kesukaan di dunia fiksi tidak berhenti di sana. SMA saya belajar menulis puisi. Meskipun masih abal-abal, beberapa puisi saya masuk di majalah sekolah. Saya lupa, kenapa akhirnya saya berhenti menulis puisi.

Hingga akhirnya terjerumus menulis flash fiction di awal-awal saya menikah. Saya menyukai flash fiction, karena tidak membutuhkan banyak kata, maksimal hanya 500 kata saja. Apalagi saat otak dibuat berfikir untuk mencari plot twist yang menjadi ciri khas flash fiction.

Menulis flash fiction membuat menggiring saya untuk mengikuti banyak challange di beberapa grup menulis flash fiction. Hingga akhirnya menghasilkan beberapa buku indie yang collab dengan penulis lain.

Sekarang? Sssttss ... sebenarnya saya masih menulis fiksi karena saya tidak bisa lepas dari dunia ini. Meskipun tidak sesering dulu menulisnya. Tapi saya publish di tempat lain, yang masih enggan saya ungkap di mana menulisnya.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature