Menyeduh secangkir kata yang kebanyakan berisi lifestyle, beauty, parenting dan psikologi, yang semoga bermanfaat untuk orang lain

Review Film Parasite (2019): Sebuah Film dengan Ruang Belajar Yang Luas

| on
Minggu, Agustus 29, 2021
Parasite.

Sebuah judul film yang saya tonton sendiri di bioskop karena memang sengaja enggak mau ajak siapa-siapa. ‘Me time’ bukan sebuah alasan, tapi karena saya ingin menonton film ini dengan suasanya yang lebih syahdu. Bukan bermaksud ingin memunculkan suasana gloomy ketika nonton sendirian, tapi lebih karena saya ingin menikmati ramainya percakapan di otak nanti selepas saya keluar dari studio tanpa diganggu dengan obrolan bersama teman nonton.

Kenapa gitu?

Karena saya sudah dapat spoiler di adegan-adegan pertama di film yang mendapatkan banyak penghargaan di Oscar ini, dan sudah dapat beberapa ‘reaksi’ saat saya googling tentang film ini. Karena spoiler dan ‘reaksi’ inilah, memaksa saya untuk berangkat sendiri, menikmati filmnya sendiri, dan bergumam sendiri sepanjang perjalanan pulang.

Hanya satu kata yang bisa saya sampaikan setelah menonton film ini, yaitu HEBAT!
Hebat? Kok bukan bagus? Atau keren? Atau epik?

Iya deh iya, saya kasih detail film Parasite dulu ya sebelum saya tulis satu-satu kenapa film Korea 2019 ini layak mendapatkan pujian ‘HEBAT’.

PARASITE (Korea)
Sutradara: Bong Joon-Ho
Penulis Naskah: Bong Joon-Ho
Sinematografer: Hong Kyung-Pyo
Premiere: 21 Mei 2019 (Cannes Film Festival)
Tanggal Rilis: 30 Mei 2019
Durasi: 131 min.
Genre: Drama Keluarga, Misteri
Distributor: CJ Entertainment
Bahasa: Korea
Negara: Korea Selatan

Pemain:
Keluarga Ki-Taek :
Song Kang-Ho sebagai Ki-Taek
Jang Hye-Jin sebagai Choong-Sook
Choi Woo-Sik sebagai Ki-Woo
Park So-Dam sebagai Ki-Jung

Keluarga Tuan Park :
Lee Sun-Kyun sebagai Tuan Park
Cho Yeo-Jeong sebagai Nyonya Park
Jung Ji-So sebagai Park Da-Hye
Jeong Hyun-Jun sebagai Park Da-Song


PARASITE. PERBEDAAN KEHIDUPAN KELUARGA KAYA DAN KELUARGA MISKIN


Film Parasite menceritakan tentang keluarga Ki-Taek yang hidupnya benar-benar miskin. Mereka tinggal di ‘banjiha’ atau basemant sebuah apartemen yang sempit, dengan dua kamar yang sempit, ruang makan yang jadi satu dengan dapur yang juga sama sempitnya, serta WC terbuka di dalam rumah. Bahkan untuk membalas chat, mereka harus menumpang wifi salah satu penghuni apartemen yang password-nya selalu diganti-ganti. Keluarga ini tidak memiliki penghasilan tetap, dan saat ini mereka hanya mengandalkan penghasilan dari melipat kardus wadah pizza.

Dari sini



Hingga suatu hari, mereka melakukan kesalahan saat melipat wadah pizza karena salah mengikuti tutorial di YouTube. Kesalahan ini membuat penghasilan mereka dipotong 10%. Ditengah kondisi keluarga yang makin sulit, datanglah teman Ki-Woo, Min-Hyu. Sambil membawa oleh-oleh dari kakeknya, dia menawarkan sebuah pekerjaan kepada Ki-Woo, yaitu menggantikan dirinya untuk menjadi guru les bahasa Inggris untuk seorang anak perempuan dari keluarga kaya raya, Keluarga Park.

Awalnya Ki-Woo menolak karena dia bukan mahasiswa atau lulusan sebuah universitas. Namun, Min-Hyu memaksa dengan mengatakan bahwa dia akan merekomendasikan Ki-Woo ke Nyonya Park. Min-Hyu juga memberikan sebuah jalan keluar setelah teringat kalau adik Ki-Woo, Ki-Jung, pandai menggunakan photoshop.

Setelah semua berkas selesai dicetak, dengan menggunakan setelan hitam yang rapi, Ki-Woo berangkat ke rumah keluarga Park. Rumah keluarga Park berada di kawasan elite yang jarang memiliki interaksi antar tetangga. Rumah berlantai dua yang besar dan memiliki halaman yang sangat luas, berhasil membuat Ki-Woo takjub.

Karena mendapat rekomendasi dari Min-Hyu dan Nyonya Park berhasil tertipu dengan ijasah palsu, Ki-Woo dengan mudah diterima sebagai guru les Park Da-Hye dengan bayaran per kedatangan yang lumayan tinggi. Saat akan pulang, Nyonya Park bercerita kalau sedang mencari guru seni untuk anak keduanya, Park Da-Song. Dari situlah muncul niat jahat Ki-Wo untuk menipu Nyonya Park, yaitu merekomendasikan Ki-Jung ke Nyonya Park sebagai guru seni yang mampu memahami kondisi psikis anak-anak.

Dari sinilah, kisah dua keluarga di film Parasite ini dimulai. Kisah yang mendebarkan dan menegangkan akhirnya terjadi!


REVIEW FILM PARASITE

Hal-Hal Menarik Dalam Film Parasite Yang Menjadi Sorotan


Oke, akhirnya masuk pada sesi di mana saya akan menceritakan kenapa saya menilai film ini sebagai film yang hebat. Dalam KBBI, kata ‘hebat’ memiliki arti terlampau, amat sangat. Dari banyak sudut, menurut saya pribadi, film ini layak menyandang kata ‘hebat’. Tidak heran jika film ini mampu memborong empat piala dalam Academy Award ke-92, dan banyak piala di beberapa acara penghargaan lainnya.

Kalau dari segi totalitas para pemainnya, sudah enggak perlu diragukan lagi ya. Saya rasa ‘standing ovation’ dari para aktor dan aktris Hollywood saat para pemain Parasite memasuki panggung di acara Screen Actors Guilf (SAG) Award 2020, menjadi bukti apiknya acting mereka. Melalui acting, mereka mampu menunjukkan ke penonton bagaimana perbedaan antar kelompok dalam sebuah masyarakat melalui sikap, sifat dan bahasa tubuh yang tidak berlebihan.

Tapi bukan hanya ini saja yang menjadi penyebab munculnya banyak monolog dalam otak saya setelah film ini selesai diputar. Ada beberapa hal menarik lainnya, yang mungkin akan panjang untuk dibahas. Udah siapkan cemilan untuk mendampingi kalian membaca ulasan saya?


Film Parasite Sebagai Media Untuk Belajar Membuat Video


Untuk kalian yang sedang belajar membuat sebuah video aestetik di media sosial atau sebuah film pendek, tontonlah film ini dan resapi bagaimana tim sinematografinya menyajikan teknik pengambilan video yang konsisten sehingga menghasilkan film yang rapi.

Dari sini


Sebagai orang awam tentang teknik pengambilan video, saya melihat ada dua teknik sinematografi yang konsisten dipakai di film ini, yaitu teknik extreme long shot dan teknik long shot. Dua teknik yang sama-sama ingin menunjukkan detail latar belakang lokasi dan gestur tubuh pemain secara keseluruh dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kita bahas satu per satu ya pengambilan dua teknik ini dari sudut pandang saya secara pribadi.

Pengambilan video dengan teknik extreme long shot dan long shot dalam film Parasite ini, punya beberapa maksud yang bisa mendukung detail cerita. Maksud-maksud ini menjadikan film berdurasi 131 menit ini menjadi lebih efektif. Pemain hanya perlu sedikit berdialog inti, sedangkan dialog-dialog tambahan diubah dengan menunjukkan detail latar belakang lokasi dalam satu shot atau scene.

Dengan extreme long shot, penonton diajak memahami kondisi tiap pemain tanpa perlu penggambaran lewat dialog. Penghematan dialog bukan? Hebatnya tim produksi di film ini adalah mereka berusaha untuk tetap membuat penonton fokus pada alur cerita melalui penggambaran detail lokasi dan gestur masing-masing pemain.

Saya beri sedikit spoiler.

Saat Ki-Taek dan kedua anaknya yang berlarian kembali ke banjiha mereka saat hujan sangat deras karena keluarga Park yang mendadak kembali dari lokasi camping, teknik extreme long shot ini dipakai terus menerus dari scene satu ke scene lainnya, bahkan dari sequence satu ke sequence lainnya.

Ki-Taek dan kedua anaknya tidak perlu banyak berdialog. Tapi dengan teknik sinematografi ini, saya bisa tahu bahwa mereka sedang berada pada kondisi gelisah karena takut ketahuan, capek karena berlari tanpa henti, khawatir dengan barang-barang penting karena hujan membanjiri banjiha mereka, dan menyerah saat banjiha mereka sudah penuh dengan air hujan.

Lalu, penggunaan teknik long shot yang juga sering dipakai di film Parasite ini. Teknik ini memang banyak dipakai di film-film lain. Tapi di film Parasite ini, teknik ini dipakai untuk menunjukkan ke penonton bagaimana perbedaan kehidupan keluarga kaya dan miskin di Korea dalam kesehariannya.

Penonton akan banyak melihat ketidakteraturan dan ketidakrapian dalam kehidupan keluarga yang miskin. Tumpukan barang di banjiha yang memenuhi lorong, tumpukan wadah pizza yang sudah mereka lipat, gang sesak di pemukiman miskin, atau orang-orang yang bergerombol di pengungsian karena banjiha mereka kebanjiran.

Berbeda dengan potret keluarga kaya di film ini. Ditunjukkan secara simpel namun tetap menonjolkan sisi elegan tapi misterius. Penonton akan sering disuguhi interior rumah minimalis tapi mewah, penataan rapi keramik-keramik dengan lampu sorot berwarna kuning di dinding rumah, atau halaman rumah yang selalu bersih dan nyaman untuk menjadi tempat berbincang dengan keluarga dan teman.

Dari sini


Dari sini saya belajar, bahwa menunjukkan perbedaan kehidupan masing-masing pemain, tidak selalu dengan memasukkannya dalam dialog yang memaksa pemain menjadi banyak berucap tentang kehidupannya. Hal ini bisa lebih efektif jika pandai mengatur setting lokasi, terutama titik-titik yang ingin difokuskan saat kamera sudah on.


Sebuah Simbiosis Dalam Hubungan Manusia


Kita semua tahu, bahwa simbiosis yang paling baik antar makhluk hidup adalah simbiosis mutualisme. Simbiosis yang terjadi antara dua makhluk hidup yang berbeda tetapi saling menguntungkan. Sedangkan dalam hubungan antar manusia, simbiosis mutualisme ini bisa ditunjukkan dengan ketergantungan antar individu tetapi memberikan kenyamanan bagi masing-masing pihak.

Dan kalian sebagai penonton akan melihat bentuk simbiosis mutualisme dalam film Parasite ini. Bagaimana keluarga Ki-Taek yang mendapatkan uang banyak setelah bekerja di rumah keluarga Park, dan keluarga Park yang menjadi lebih tenang karena mendapatkan pegawai-pegawai yang kompeten (aka. para anggota keluarga Ki-Taek).

Dari sini


Kalau membaca sedikit cerita dalam film Parasite yang sudah saya tulis di awal, mungkin dari kalian akan beranggapan kalau yang menjadi benalu adalah keluarga Ki-Taek. Mereka bahkan berani menipu keluarga Park supaya bisa hidup sedikit lebih nyaman daripada sebelumnya.

Tapi nanti, bisa saja anggapan kalian akan berubah seiring dengan adegan-adegan yang terus bergulir di film ini. Terutama saat konflik-konflik kecil mulai bermunculan, dan plot twist mulai disajikan. Dari sini saya belajar bahwa setiap manusia bisa menjadi benalu bagi manusia lainnya ketika mereka berada dalam kondisi terjepit karena masalah yang terjadi dalam kehidupan mereka.


Bermain-Main dengan Psikologi Karakter-Karakternya dan Penonton Film


Dalam banyak artikel menyebutkan bahwa Bong Jong-Ho saat menulis naskah film Parasite ini, ingin menunjukkan kepada penonton bahwa karakter-karakternya merupakan sosok yang jauh dari tindak kekerasan. Mereka hidup dalam keluarga yang harmonis, baik keluarga Ki-Taek yang miskin, maupun keluarga Park yang kaya.

Oh iya, kalau kalian ingin tahu informasi lebih lanjut tentang kehidupan para pemain film Parasite ini, kalian bisa mengunjungi website Bacaterus. Ada beberapa artikel tentang film Parasite yang ditulis dengan rapi di sana. Kalian juga bisa mencari informasi mengenai dunia film di Bacaterus, sehingga kalian enggak ketinggalan informasi.

Lanjut lagi ya. Untuk memunculkan sebuah klimaks dalam ceritanya, Bong Jong-Ho perlu menggali lebih dalam lagi supaya kekerasan itu bisa muncul dalam simbiosis mutualisme yang terjadi antar dua keluarga ini. Di sinilah saya menyebutkan kalau Bong Jong-Ho memainkan psikologi dari karakter yang dia ciptakan, yang mampu mempengaruhi psikologi penontonnya.

Bong Jong-Ho mampu menggambarkan perkembangan karakternya dengan sangat baik dari sisi psikologis, yang mana perkembangan karakternya ini saling mempengaruhi dinamika antar kelompok (keluarga). Perkembangan sisi psikologis para karakter ini, dipakai oleh Bong Jong-Ho untuk menggali sebab-sebab munculnya kekerasan sebagai klimaks cerita.

Saking lihainya kemampuan sang Sutradara ini, tanpa kita sadari ternyata konflik-konflik yang muncul dalam film ini membawa banyak isu kehidupan, yang mana bisa menjadi trigger untuk memunculkan kecemasan para penonton. Saya sebenarnya maju mundur untuk rerun film ini lagi karena ada beberapa penyebab yang membuat kecemasan saya muncul. Tapi karena saya ingin mengenang film Parasite ini dalam kehidupan saya dengan cara menuliskannya di blog, saya beranikan untuk menonton kembali meskipun setelahnya saya bergegas lari ke kamar mandi untuk muntah.
.
.

Ingmar Bergman pernah berkata, “Tidak ada seni yang melampui nurani kita seperti film, dan langsung menuju perasaan kita, jauh ke dalam ruangan gelap jiwa kita.”

Quote dari Ingmar tentang pembuatan sebuah film ini, sangat cocok dengan yang saya alami setelah menonton film Parasite. Dari film ini saya belajar banyak hal. Belajar tentang pembuatan video yang mana pembelajaran ini ternyata memunculkan gairah dan perasaan senang tersendiri dalam diri saya, lalu belajar tentang menjaga hubungan dengan orang lain supaya tetap harmonis, dan belajar untuk mengendalikan kecemasan yang muncul dalam diri saya saat ada trigger.

Banyaknya pengalaman yang saya dapatkan dari film ini, membuat saya berani berkata ke teman-teman kalau film ini harus masuk dalam list ‘Film Yang Harus Ditonton Sekali Dalam Seumur Hidup’.
26 komentar on "Review Film Parasite (2019): Sebuah Film dengan Ruang Belajar Yang Luas"
  1. Keren banget film ini judulnya juga Parasit yang bermakna keluarga rendah memanfaatkan bekerja di keluarga kaya untuk menikmati kekayaannya. Wajib nonton, nih.

    BalasHapus
  2. Emang layak dapat penghargaan ini film ya mbak, pas nonton tuh rasanya gimana gitu, kadang kasihan, heran, sebel, emang psikologi penonton juga dimainkan. Btw, reviewnya super ini mbak, kaya!

    BalasHapus
  3. nonton film ini tahun lalu, kepikiran kok pemilik rumah bisa mempersilahkan orang luar masuk tanpa cek background masing2

    BalasHapus
  4. yap setuju, film parasite emang keren. ternyata ada yg lebih parasit daripada keluarga ki-taek.

    kalo dirunut salah siapa... mari kita salahkan park seo joon yang nongol bawa batu, hahaha. kalo dia ga muncul, tragedi ga bakal terjadi :D

    BalasHapus
  5. Aku nonton film Parasite ini sampai 3 kali di tv loh hahahah :) Senang karena kualitas filmnya bagus. Sebel dan gemes banget sama keluarga si miskin yang pinter nipu keluarga si kaya. Anehnya si kaya kayak orang2 bloon percaya begitu aja ya hadeuuuh :D

    BalasHapus
  6. Ini udah saya nanti2 filmnya, tapi baca sinopsisnya saya ga berani. Soalnya saya kurang suka genrenya...hehehe... beberapa teman bilang memang bagus filmnya. Nanti coba ah saya cari lagi, jadi tertarik mau nonton nih

    BalasHapus
  7. suami aku nonton ini waktu itu.. aku yg belum nonton nih sampe sekarang. Bagus bahkan hebat yaaaa. .Mau ah nanti aku coba tonton karena udah lumayan ada waktunya. Hihi, pandemik hiburan aku jg jadi nonton.
    Aku monolog di otak saat belum nonton aja udah banyak nih mba, gimana abis nonton yaaa.

    BalasHapus
  8. Beda banget sama tontonan di negara kita ya. Yang kebanyakan ngomong, nangis, zoom, jreng jreng... Zoom, jreng jreng... Gitu deh sampai durasi habis dan iklan yang bertaburan.
    Saya harus nonton juga film Parasit ini.

    BalasHapus
  9. Wah jadi pengen nonton juga deh Mbak. Harus di bioskop ya Mbak? Semoga ada di Netflix hehehe. Ada kejadian gak enak soalnya di bioskop Mbak. Seat saya dibejek² dari belakang. Pengen ngamuk ya gimana. Jadi pas ada film baru rilis biasanya aku cek dulu apa ada di Netflix. Meski beda rasanya ya, tapi ya gitu gak ada yang bejek² seat lagi kan.

    BalasHapus
  10. Wah hebat mbak pengamatan mengenai sinematografi film parasite ini.
    Saya kalau nonton ya lebih banyak meresapi dialog para pemainnya aja.
    Padahal tanpa dialog pun, dengan visualisasi juga bisa menggambarkan dengan bagus ya

    BalasHapus
  11. Sebenarnya, selain pujian, banyak juga kritik tajam untuk film besutan Bong Joon-Ho ini. Tapi mungkin sang sutradara sedang beruntung karena di tahun itu Parasite lah yang paling menonjol menunjukkan sisi-sisi social gap yang sangat kentara dengan ending plot twisted yang tentu saja gak terduga oleh penonton.

    Aku di pihak netral sih.. Tapi Parasite cukup banyak membuatku banyak membaca sehingga membuatku merasa lebih "kaya" saat melihat film pemenang Oscar 2020 ini.

    Satu hal lagi, berharap Indonesia juga bisa memiliki ide sederhana yang menyoroti kehidupan sehari-hari dan bisa diangkat ke layar lebar. Tidak hanya menjanjikan kehidupa indah bak Cinderella atau kisah anak yang dilupakan ibunya.
    Hhaha...aku nyindir film apa hayo..?!?

    BalasHapus
  12. Saat booming dulu aku nonton Film Parasite dan mendapatkan banyak hikmah bahwa keserakaan itu gak akan bikin sukses dan selalu menghasilkan penyesalan.

    BalasHapus
  13. Aku nih suka banget sama Parasite, dan emang gila banget ini sekeluarga ya kalau ku bilang. Nipunya niat dan rapih banget, selain itu aku juga suka dengan cinematicnya yang cakep.

    BalasHapus
  14. Jujur ini film membekas banget buat aku, pelajarannya dapet banget. Memang yang paling nakutin di dunia ini adalah manusia, apalagi kalau udah muncul perasaan serakah. Btw gara-gara film ini aku jadi suka sama Park So Dam. Hehe.

    BalasHapus
  15. Nonton ini setahun lalu dan langsung ow woow ternyata Korea tidak seindah di drakor yah. Langsung sadar kalo tekanan hidup disana juga ngga jauh berbeda dengan di Indonesia

    BalasHapus
  16. Sampai sekarang saya bahkan nonton film ini hehe, masukin list deh dan mau nonton, bagus ya reviewnya.

    BalasHapus
  17. Saya sudah nonton film ini mak, terima aksih sudah diulas kembali, aku gak sempat, kalo libur atau week end, biasa aku rally nonton film, jadi kadang gak begitu ingat banget setelah, nonton ya pas itu aja dinikmati, hehehe

    BalasHapus
  18. Mbak, aku nonton film ini di bioskop, waktu belum banyak spoiler. Dan aku terkejut dengan banyak twist di film ini. Plus jadi ngeri sendiri. Oh ya, aku punya cerita menarik, suatu hari pas lagi naik krl, orang2 di sebelahku itu satu keluarga gitu. Ada org dewasa, dan anak-anak nya. Dan tahu ga, aroma mereka menusuk=(. Mgkn aq jahat, tp itu aroma yang bikin aku terganggu, ga nyaman. Aku jadi kebayang kayak adegan di film parasit. Hiks

    BalasHapus
  19. Sudah beberapa kali membaca review film Parasite ini sampai hafal alurnya namun belum juga sempat menonton.

    BalasHapus
  20. film ini memang terbukti bagus
    banyak penghargaan yang sudah diraih
    wajib nonton ya mbak, aku suka banget sama aktingnya nyonya park

    BalasHapus
  21. aku udah nonton film ini waktu awal - awal booming, dan waktu itu ngerasa ini film dark banget. tapi pesannya bnyak gitu, jadi aja penasaran nonton sampe akhir.

    BalasHapus
  22. Saat nonton Parasite, aku langsung merasa, ga heran deh kalau film ini menang di OSCAR, apalagi deretan pemain papan atas ikut menghiasi. Tapi ya memang agak heran sama istri pemilik rumahnya, segitu ngga hati-hatinya dia sama orang asing hanya karena dapat rekomendasi teman.

    BalasHapus
  23. Idenya luar biasa pun elsekusinya Ya Mam. Pantesan menang penghargaan. Nggak nyangka ide itu bisa jadi tontonan yang bagus banget

    BalasHapus
  24. Panjang artikelnya tapi gak ngebosenin mbak. Saya termasuk yang ga berani nonton parasite mbak. Walaupun anak anak ngajak nonton bareng, saya ga mau ikutan. Saya orang yang mudah terbawa suasana di dalam film. Jadi daripada nanti terteror sama parasite yang sesungguhnya mendingan gak nonton sama sekali. Beruntung baca pengalaman mbam ria dari sisi conten creator, jadi lebih cerah ngebayanginnya hehe

    BalasHapus
  25. Gak heran ya mbak kalau film Parasite ini dapat penghargaan. Memang dalam hal sinematografi dan isinya juga bagus, layak lah pokoknya. Banyak yang suka dengan film ini, salah satunya saya. Banyak juga pelajaran yang didapatkan dari film Parasite ini

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature